
Wakidi : nanti kalau sholat jum'at, aku pengen pake baju terbaikku. Pengen pake parfumku yg paling mahal. Songkok terbaik dan juga sarung termahalku yang jarang tak pake.
Saridin : Kok tumben...emang ada apa?
Wakidi : Ya namanya mau menghadap Allah, masak mau asal-asalan?
Saridin langsung membacakan dalil tentang peringatan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan melihat baju seseorang. Melainkan akan melihat hatinya.
Saridin : Apa kamu lupa dalil itu?
Wakidi : Oh, tidak. Aku sangat ingat dalil itu.
Saridin : Lha terus?
Wakidi : Aku ini orang bodoh Din. Untuk bisa benar-benar tawajjuh (menghadapkan hati) ilallah, aku belum bisa melakukannya sendiri. Aku masih harus dibantu dengan "atribut ketuhanan"
Saridin : Maksudnya?
Wakidi : Yaa...misalnya harus pake baju koko, pake songkok, sarungan dan harus ada di dalam masjid. Tanpa itu semua, aku belum bisa dzikrullah. Jadi semua itu aku lakukan semata-mata demi menghadirkan suasana ke-ilahi-an ke dalam hatiku. Jadi bukan sok-sok'an apalagi pengen terlihat 'alim. Bukan!
Tiba-tiba Eyang nyelonong dan ndeprok bersama Saridin dan Wakidi sembari nyeruput kopi dan ngudud Dji Sam Soe.
"Makanya kalian jangan suka menghakimi orang. Mereka yang selalu pake jubah, belum tentu orang baik, meski juga belum tentu pula orang yang pengen terlihat 'alim. Mungkin saja ada yang memang sok ngalim, tapi mungkin juga memang benar-benar orang 'alim. Atau bisa juga seperti Wakidi yang memang butuh pengkondisian fisik sebelum melakukan tawajjuh ilallah," tutur Eyang.
"Rungokno kuwi lho," sela Wakidi.
"Spiritualitas seseorang itu tidak bisa dilihat dengan bashar (mata telanjang). Tapi harus dengan bashirah (mata hati). Makane luwih becik ga usah menilai wong liyo. Dari pada ndadekno pitenah. Mending petanono bathukmu dewe ae!Gerayahono raimu dewe kuwi lhooo," pesan Eyang.
Sudahkah Anda muhasabah hari ini?
Alfaqir ilaa rahmatillah
Komentar
Posting Komentar