Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tasawuf

Doso Pitutur Sunan Kalijogo

10 Pitutur Kanjeng Sunan Kalijogo : Urip iku urup (Hidup itu menyala. Artinya, hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan semakin lebih baik) Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto Dur Hangkoro (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak) Suro Diro Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar) Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake. Sekti Tanpo Aji-aji, Sugih Tanpo Bondo  (Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan. Kaya tanpa didasari kebendaan) Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala terluka, jangan sedih manakala kehilangan sesuatu) Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo ...

Pidato KH Hasyim Asy'ari

Pidato Rois Akbar Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pada saat didirikannya NU pada 16 Rajab tahun 1344 H/31 januari 1926 M di Surabaya Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hambaNya agar menjadi pemberi peringatan kepada sekalian umat dan menganugerahinya hikmah serta ilmu tentang sesuatu yang Ia kehendaki. Dan barangsiapa dianugerahi hikmah, maka benar-benar mendapat keberuntungan yang melimpah. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Nabi, Aku utus Engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan penyeru kepada (agama) Allah serta sebagai pelita yang menyinari.” (QS. al- Ahzab ayat 45-46)

Kebelet Ngislam

Kebelet pipis…? Kebelet be’ol…? Kebelet kawin…? Kebelet kaya…? Anda yang bukan orang Jawa mungkin akan bertanya2, apakah kebelet itu? Orang Arab bilang, maa hiya kebelet ? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebelet diartikan sebagai : ingin sekali, tidak tertahankan lagi untuk melaksanakan keinginan. Apakah definisi KBBI itu sudah mewakili pengertian kebelet sesuai yang dimaksud oleh penemu kata kebelet ? Entahlah. Tapi setidaknya sudah cukup memberikan gambaran tentang arti kata kebelet . yakni adanya sebuah dorongan dari dalam untuk bersegera melakukan sesuatu.

Gusti Allah dan Spageti

Pagi2 Eyang bilang pengen ngajak Wakidi dan Paijo makan spageti. Tapi waktunya entah kapan, nunggu Eyang punya waktu longgar. Wakidi dan Paijo hanya manthuk saja. Padahal, mereka berdua sama2 tidak ' ngeh ' dengan makanan bernama spageti. Saking penasarannya, diam2 Wakidi dan Paijo mencari informasi tentang spageti. Wakidi yang agak melek teknologi, memilih searching di google. Sementara Paijo yang ndeso , menggali informasi dengan cara bertanya kepada orang2 yang dinilai paham tentang spageti.

Membangun Peradaban Berbasis Spiritualisme

Momok Tarekat Pengantar Ada hantu menyeramkan yang bergentangan di Eropa Hantu itu bernama komunisme Begitulah sejarah mencatat pergerakan sosial politik di sejumlah negara pada kisaran tahun 1800-an. Komunisme begitu ditakuti karena banyak melahirkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap tatanan kemapanan yang dipelopori kaum kapitalis-borjuis. Gerakan-gerakan itu bahkan acapkali berujung pada pembantaian atas nama kepentingan rakyat jelata. Kaum komunis seolah-olah hanya memberikan 2 pilihan. Jika diam, maka keadaan tidak akan pernah berubah. Artinya, kesejahteraan dan kebahagiaan yang menjadi impian setiap manusia hanyalah sebuah mimpi belaka. Karena itu, mau tidak mau rakyat digiring untuk memilih ambil bagian dari gerakan revolusi. Sebab dengan begitu, ada harapan untuk kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Sapi dan Wali

Alkisah... Suatu hari ada seorang warga Bangkalan, sebut saja namanya Sodiq, sedang punya hajat. Dia menyembelih seekor sapi besar sebagai hidangan untuk tamu. Tamu undangan pun berdatangan. Tp acara blm juga dimulai karena sdg menunggu kehadiran Mbah Kyai Cholil untuk memimpin tahlil. Begitu datang, Mbah Kyai Cholil langsung memimpin tahlil. Di luar dugaan, tahlilnya sangat singkat. Mbah Kyai Cholil hanya membaca fatihah, laa ilaaha illallah 3x, trus lgsg berdoa. Si Sodiq sbg tuan rumah nggrundel. "Ga sumbut karo sapine. Tiwas tak tukokno sapi sing guede, lha kok tahlile mung ngono thok," kata Sodiq dlm hati. Keesokan harinya, Mbah Kyai Cholil menyuruh santrinya untuk membeli sapi yg lebih besar dari yg disembelih Sodiq. Bahkan jauh lebih besar. Setelah dapat sapi, santri itu disuruh memanggil Sodiq menghadap Mbah Kyai Cholil sambil bawa timbangan besar. Singkat cerita, Sodiq pun sowan Mbah Kyai Cholil bawa timbangan besar. "Aku tahu kamu kmrn kecewa. Skrg coba kau tuli...

Hasil Muktamar Sufi di Chechnya

Pernyataan Hasil Muktamar “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah?” Penjelasan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas. Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau semuanya.

Jangan Lihat Sampulnya !

Wakidi : nanti kalau sholat jum'at, aku pengen pake baju terbaikku. Pengen pake parfumku yg paling mahal. Songkok terbaik dan juga sarung termahalku yang jarang tak pake . Saridin : Kok tumben... emang ada apa? Wakidi : Ya namanya mau menghadap Allah, masak mau asal-asalan?  

Sholawat vs Istighfar

Pagi-pagi Wakidi dan Saridin sudah ribut. Apa yang diributkan? Mereka berdebat tentang mana yg harus didahulukan, antara sholawat dan istighfar . Menurut Wakidi sholawatlah yg harus dikedepankan sebagai bentuk kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Sebaliknya, Saridin ngotot bahwa istighfar lah yang harus diutamakan sebagai bentuk penghambaan.

Wali Paidi (seri 13)

Sehabis tahlil bersama dalam rangka memperingati Haul Gus Dur ke 2, Wali Paidi ngopi bareng sama warga. Mereka saling berkelompok tiga sampai empat orang membicarakan dan mengenang Gus Dur diselingi adu argumen mengenai apa rahasia di balik sepak terjang Gus Dur di masa lalu. Wali Paidi tersenyum-senyum meihat tingkah laku mereka. Wali Paidi sendiri duduk-duduk bersama empat orang dengan satu cangkir kopi besar berada di tengah. Mereka berlima joinan bersama. Indah dan rukun sekali.

Wali Paidi (seri 12)

Terlihat di sudut terminal orang gila ini tertawa-tawa menikmati makanan dan minuman hasil rampasannya, Wali Paidi berjalanperlahan mendekati orang gila tersebut. Wali Paidi mendekat ke orang gila hingga berjarak sekitar 10 meteran. Sambil menyantap makanan dan minuman, orang gila tersebut berkata, “ Gak usah heran Di. Orang yg dekat dengan Tuhannya, apa yg tidak di ketahui di muka bumi ini. Yg diketahui Gusti Allah juga diketahui oleh para kekasihnya. Apalagi namamu terkenal di langit sana. Namamu seringkali muncul karena seringnya kamu usul kepada Gusti Allah”.

Wali Paidi (seri 11)

Anak buah Gohell yg berjumlah tujuh orang ini lebih heran lagi melihat pemimpin mereka terduduk dan menangis tersedu-sedu di hadapan Wali Paidi. Tanpa dikomando mereka mendekati pimpinan mereka dan membuat pagar betis melingkari Wali Paidi dan Gohell. Mereka berdiri melingkar menutupi mereka supaya orang – orang tidak tahu kalau pimpinan mereka menangis, mereka malu kalau orang-orang melihat pimpinan mereka menangis. Masak pimpinan preman kok nangis…(he..he..he..) Wali Paidi menepuk nepuk pundak Gohell, dan menariknya untuk berdiri lalu berkata, “ Udah mas, aku sama sampeyan ini masih saudara jadi gak usah sungkan”.

Wali Paidi (seri 10)

Sehabis dari acara peresmian toko Mas Kiai mursyid, Wali Paidi pamit pulang. Sebenarnya uang Wali Paidi ini sudah habis sama sekali dikasihkan kepada tamu-tamu Mas Kiai mursyid yg bersarung dan ber kopyah itu sebagai uang kaget. Kaget atas acara yg begitu menghebohkan. Mas Kiai mursyid yg tahu kalau Wali Paidi ini kehabisan uang malah menggodanya, ketika wali Wali Paidi pamit padanya. “Kang, duwit sampeyan kan masih banyak. Jadi aku wes gak usah nyangoni , ini garam aja sampeyan bawa,” ucap Mas Yai musyid. “Hehehe…iya Mas Yai. Terimakasih,” jawab Wali Paidi.

Wali Paidi (seri 9)

Wali Paidi berpenampilan lain dari biasanya, dia tampil gaul sekali, memakai sepatu unkl347. Celana jeans pensil airplane system, dan kaos merk Spilis Infection. Walaupun semua pakaiannya ini pemberian dari adik Mas Kiai mursyid yg kebetulan buka toko pakaian distro. Dan dengan memakai kaca mata BL hitam Invictus, Wali Paidi berangkat untuk memenuhi undangan Mas Kiai mursyid dalam rangka tasyakuran dan pembukaan toko onderdil barunya yang mana semua barangnya lansung didatangkan dari luar negeri. Mas Kiai mursyid ini kalau bisnis memang tidak mau setengah2, sekali terjun beliau langsung menyelam sekalian.

Wali Paidi (seri 8)

Wali Paidi menyusuri jalan, pergi tanpa arah dan tujuan. Dia hanya berjalan dan berjalan. Lupa akan makan dan minum. Wali Paidi ingin menghindari orang2 yg mulai tahu kedudukannya. Mulai banyak orang sekarang yg memanggilnya gus, memanggilnya kyai bahkan ada yg terang2an memanggilnya sang wali. Kehidupan Wali Paidi sekarang tampak ramai, ada saja orang yg memerlukan bantuannya. Soal jodoh, soal penglaris dan ada juga yg hanya minta barokah do'a. Dan yg paling berat, ada yg minta diakui murid. Wali Paidi merasa terusik, dia ingin merasakan kehidupannya yg dulu. Orang2 hanya mengenalnya sebagai penjual minyak wangi dan pengajar alif2an di musholla kecilnya.

Wali Paidi (seri 7)

Setelah beberapa hari bersama Wali Paidi, si murid thoriqoh ini menghadap kepada guru mursyidnya guna melaporkan peristiwa yg dialaminya. Kira2 sepuluh meter dari gerbang pondok, si murid ini sudah disambut kawannya yg juga mondok disitu dg berkata, “ Kang .. sampeyan udah ditunggu Mas Yai di depan musholla pondok”. “ Lhoh ? Yai sudah menunggu to,” jawab si murid. “Iya Kang , tadi kira-kira setengah jam yg lalu aku disuruh Mas Yai membuat dua kopi. Dan beliau berpesan, setelah membuat kopi tolong taruh di depan musholla dan cepat2 kamu ke pintu gerbang karena dulurmu akan datang,” terang kawan si murid.

Wali Paidi (seri 6)

Pemuda santri thoriqot ini hanya diam , tidak berani berkata banyak di depan Wali Paidi. Suasana jadi hening, hanya terdengar suara Wali Paidi yg menghisap rokoknya. “ Monggo kopine kang , dan ini rokoknya,” Wali Paidi menawarkan kopi dan rokok Dji Sam Soenya. “Iya terimakasih,” setelah menyeruput kopinya pemuda, ini mengeluarkan rokok dan menyalakannya. “ Gimana kabarnya mas kiai mursyid,” tanya Wali Paidi. “Alhamdulillah baik-baik saja,“ jawab pemuda ini.

Wali Paidi (seri 5)

Sesampainya di rumah sehabis dari Gunung Arjuna, Wali Paidi menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya. Tiap pagi Wali Paidi pergi ke pasar berjualan minyak wangi. Orang2 di pasar dan di rumahnya biasa memangilnya kang Paidi tukang minyak. Sekitar jam 1 siang Wali Paidi ini menutup tokonya dan pulang. Setelah sholat ashar sehabis istirahat siang Wali Paidi mengajari anak2 kecil di langgarnya belajar membaca qur'an sampai waktu magrib. Dulu di langgar Wali Paidi yg sederhana ini ramai sekali dipenuhi anak2 kecil yg belajar mengaji. Tapi setelah ada sistem iqro' dan qiroati, langgar Wali Paidi ini sepi. Anak2 pada pindah ke TPQ2 yg memang banyak tersebar di kampungnya Wali Paidi ini.

Wali Paidi (seri 4)

Keringat yg berbau kemenyan keluar dr pori-pori para prajurit raja jin, yakni Raja Ismoyo. Suasana tegang masih sangat terasa. Saking tegangnya, ada perajurit yg sampai terkencing-kencing di celana. Hehehe “Tuan wali, buat apakah korek tersebut kalau hamba boleh tahu,” tanya Raja Ismoyo. “Buat menyalakan ini dan membuat ini,” jawab Wali Paidi sambil menunjukkan rokok dan kopinya.

Wali Paidi (seri 3)

  Setelah beberapa hari di Indonesia, Wali Paidi berencana melakukan suluk nyepi ke gua di Gunung Arjuna sesuai perintah sang sulthonul aulia . Wali Paidi mulai berkemas untuk berangkat ke Gunung Arjuna. Berpres2 rokok sudah disiapkan mulai Dji Sam Soe, Gudang Garam dan Djarum sudah lengkap. Tidak ketinggalan kopi satu blek juga dibawanya.