Langsung ke konten utama

Postingan

Surat Balasan Kerajaan Arab Saudi

Dari Kerajaan Hijaz dan Nejad serta Daerah Kekuasaannya. No. 2028, Tanggal 24 Djulhijjah, 1346 Hijriyah Dari Abdullah Aziz bin Abdurrahman keluarga Faishal kepada yang terhormat ketua NU di Jawa, Syeikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan penulisnya Syeikh Alwi bin Abdul Aziz, semoga Allah senantiasa memelihara mereka. Setelah mengucapka  Assalamu’alaikum Wr. Wb.  Perlu dimaklumi bahwa surat saudara tertanggal 5 syawal 1346 sudah kami terima, apa yang tercantum didalamnya telah kami telaah, khususnya apa yang saudara-saudara tuturkan menunjukkan kepedulian terhadap urusan umat Islam. Juga delegasi yang saudara kirim yaitu Al-Haj Abdul Wahab dan Ustdz Syeikh Ghonaim Al-Amir selaku mustasyar NU telah menghadap kami dan telah menyampaikan pesan saudara kepada kami. Adapun mengenai urusan perbaikan Negara Hijaz adalah urusan internal dalam kerajaan dan pemerintahan. Tiadalah terlarang semua amalan yang menjadi kesenangan jama’ah  baitullahiharam  dan juga tidak terlara...

Deklarasi Komite Hijaz

Segala puji bagi Allah yang maha tunggal sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Muhammad dan keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Kehadapan yang Mulia Raja Hijaz dan Najed serta daerah kekuasaannya, semoga Allah memberikan pertolongan kepadanya di dalam mengurus segala sesuatunya yang menjadikan kemaslahatan umat Islam.

Wali Paidi (seri 13)

Sehabis tahlil bersama dalam rangka memperingati Haul Gus Dur ke 2, Wali Paidi ngopi bareng sama warga. Mereka saling berkelompok tiga sampai empat orang membicarakan dan mengenang Gus Dur diselingi adu argumen mengenai apa rahasia di balik sepak terjang Gus Dur di masa lalu. Wali Paidi tersenyum-senyum meihat tingkah laku mereka. Wali Paidi sendiri duduk-duduk bersama empat orang dengan satu cangkir kopi besar berada di tengah. Mereka berlima joinan bersama. Indah dan rukun sekali.

Wali Paidi (seri 12)

Terlihat di sudut terminal orang gila ini tertawa-tawa menikmati makanan dan minuman hasil rampasannya, Wali Paidi berjalanperlahan mendekati orang gila tersebut. Wali Paidi mendekat ke orang gila hingga berjarak sekitar 10 meteran. Sambil menyantap makanan dan minuman, orang gila tersebut berkata, “ Gak usah heran Di. Orang yg dekat dengan Tuhannya, apa yg tidak di ketahui di muka bumi ini. Yg diketahui Gusti Allah juga diketahui oleh para kekasihnya. Apalagi namamu terkenal di langit sana. Namamu seringkali muncul karena seringnya kamu usul kepada Gusti Allah”.

Wali Paidi (seri 11)

Anak buah Gohell yg berjumlah tujuh orang ini lebih heran lagi melihat pemimpin mereka terduduk dan menangis tersedu-sedu di hadapan Wali Paidi. Tanpa dikomando mereka mendekati pimpinan mereka dan membuat pagar betis melingkari Wali Paidi dan Gohell. Mereka berdiri melingkar menutupi mereka supaya orang – orang tidak tahu kalau pimpinan mereka menangis, mereka malu kalau orang-orang melihat pimpinan mereka menangis. Masak pimpinan preman kok nangis…(he..he..he..) Wali Paidi menepuk nepuk pundak Gohell, dan menariknya untuk berdiri lalu berkata, “ Udah mas, aku sama sampeyan ini masih saudara jadi gak usah sungkan”.

Wali Paidi (seri 10)

Sehabis dari acara peresmian toko Mas Kiai mursyid, Wali Paidi pamit pulang. Sebenarnya uang Wali Paidi ini sudah habis sama sekali dikasihkan kepada tamu-tamu Mas Kiai mursyid yg bersarung dan ber kopyah itu sebagai uang kaget. Kaget atas acara yg begitu menghebohkan. Mas Kiai mursyid yg tahu kalau Wali Paidi ini kehabisan uang malah menggodanya, ketika wali Wali Paidi pamit padanya. “Kang, duwit sampeyan kan masih banyak. Jadi aku wes gak usah nyangoni , ini garam aja sampeyan bawa,” ucap Mas Yai musyid. “Hehehe…iya Mas Yai. Terimakasih,” jawab Wali Paidi.

Wali Paidi (seri 9)

Wali Paidi berpenampilan lain dari biasanya, dia tampil gaul sekali, memakai sepatu unkl347. Celana jeans pensil airplane system, dan kaos merk Spilis Infection. Walaupun semua pakaiannya ini pemberian dari adik Mas Kiai mursyid yg kebetulan buka toko pakaian distro. Dan dengan memakai kaca mata BL hitam Invictus, Wali Paidi berangkat untuk memenuhi undangan Mas Kiai mursyid dalam rangka tasyakuran dan pembukaan toko onderdil barunya yang mana semua barangnya lansung didatangkan dari luar negeri. Mas Kiai mursyid ini kalau bisnis memang tidak mau setengah2, sekali terjun beliau langsung menyelam sekalian.