Wawancara penulis dengan Muhammad Nuh (Rektor ITS)

Apa pengertian agama menurut Anda ?
Jadi begini, ada konsep dasar yang harus kita tata. Pertama tentang keberadaan manusia, apakah sebagai sesuatu yang by accident (tiba-tiba ada, Red) atau by design. Saya melihat keberadaan manusia dan makhluk lainnya serta alam semesta ini bukan parhazard (bahasa Perancis, artinya sama dengan by accident), melainkan by design. Ada yang merancang dan merencanakan. Itu bisa dilihat dari beberapa fenomena, baik dari dalam diri manusia itu sendiri maupun dari alam semesta. Yaitu adanya keberaturan, itu yang paling pokok. Adanya keberaturan itu menandakan bahwa kejadian ini bukan by accident. Mulai dari yang sifatnya makrokosmis sampai mikrokosmis. Berangkat dari situ, yang perlu kita pahami adalah bagaimana grand scenario ini bisa diselamatkan. Kata kuncinya adalah harus ada rule of the game. Di situlah pentingnya pertama kali kita harus mengenal siapa yang mendesign ini. Tentu sangat tidak mungkin mobil itu dirancang oleh mobil itu sendiri. Tidak ada manusia yang merancang dirinya sendiri. Dari situlah muncul satu konsep yang namanya Tuhan. Sebenarnya, semua orang secara sadar atau tidak pasti mengakui adanya Tuhan. Pada kondisi tertekan, biasanya seseorang akan mengungkapkan adanya sesuatu yang berada di atas segalanya. Entah itu disebut Duh Gusti, Maha Dewa, Yang Maha Kuasa, Allah atau apa saja. Dari sini kemudian muncul satu pergolakan di dalam pikiran manusia tentang siapa yang disebut Tuhan itu. Persoalannya di situ. Dari sinilah muncul aliran-aliran yang disebut agama itu. Hakikat dari agama ada tiga. Pertama pasti memiliki Tuhan, kedua pasti ada messenger (utusan) dan yang ketiga adanya kitab. Dari situlah muncul
Apa pula pengertian sains menurut Anda ?
Sains merupakan bagian dari agama. Saya tidak melihat sesuatu yang terpisah, ini ilmu ini agama. Bukan. Tetapi di dalam agama itu ada ilmu, part of ad-dien. Apa sebenarnya pengertian sains dengan knowledge ? Kalau di kamus, kata dasarnya sama-sama pengetahuan. Tapi perbedaan mendasarnya ada pada wilayah epistemologis, ontologis dan aksiologis. Yang membedakan adalah pada kaidah-kaidah berpikir tentang bagaimana mendapatkan pengetahuan itu. Makanya ada yang membagi dalam pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah atau sains. Sains selalu melalui 3 tahap itu. Contohnya, semua orang tahu tentang bolpen. Itu pengetahuan biasa. Tapi bisa menjadi pengetahuan ilmiah kalau orang memahami mengapa ini ada, bagaimana ini bisa ada dan untuk apa diadakan. Obyeknya sama, tapi kerangkanya jelas berbeda. Jadi, kalau di kepala seseorang selalu memiliki 3 pendekatan itu, maka dia bisa dikatakan memiliki sikap ilmiah. Kepribadian yang ilmiah.
Lalu bagaimana hubungan antara keduanya ?
Sains itu merupakan bagian dari agama. Karena agama selalu menggunakan pendekatan 3 hal tersebut. Agama itu selalu mengajarkan untuk mencari, ini berkaitan dengan mengapa dan bagaimana. Yang kedua, bukan sekedar mencari, tapi dituntut aspek aksiologisnya. Tentang kemanfaatannya. Oleh karena itu kalau sekedar mendapatkan sesuatu tapi tidak memiliki kemanfaatan, itu berarti kerangka keagamaannya juga tidak ada. Ada satu cerita, seseorang yang memiliki kemampuan memasukkan jarum ke dalam lubang jarum lainnya dari jarak yang cukup jauh. Dia bisa menumpuk jarum hanya dengan melempar jarak jauh. Suatu hari dia dipanggil Raja untuk mendemokan keahliannya. Setelah selesai, Sang Raja memberi uang 100 dirham. Tapi ketika hendak pulang, Sang Raja menarik kerah baju orang itu dan memerintahkan menterinya untuk menghukum cambuk sebanyak 100 kali. Ketika ditanya, dikatakan bahwa uang 100 dirham itu merupakan penghargaan Sang Raja atas keahliannya. Sedang 100 cambuk itu merupakan kekecewaan Sang Raja atas prestasinya. Sang Raja marah karena untuk kemanfaatan apa keahlian itu. Jadi kemanfaatan menjadi kata kunci. Rasulullah mengatakan idzaa maatabnu adama inqothoa amaluhu illa min tsalasa (Ketika anak Adam meninggal maka putuslah seluruh amalnya kecuali tiga, Red). Salah satunya adalah ilmu yang manfaat.
Artinya bahwa sains itu juga harus mengandung unsur kemanfaatan ?
Mestinya, kalau ada kata mestinya itu berarti faktanya selalu kontradiktif. Ilmu manteknya kan begitu. Jadi mestinya bagi orang-orang yang mengaku beragama dengan baik, itu pasti dia harus bisa memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi lingkungan. Khoirunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang memberikan kemanfaatan bagi lingkungan, Red), kan begitu ajarannya. Itu yang harus didorong terus di dalam melakukan perubahan paradigma beragama. Jadi orang harus berlomba-lomba mengejar sains, tapi harus dibingkai dengan agama dalam artian mencari kemanfaatan. Itu bagian dari jihad.
Apakah itu bukan bagian dari hegemoni agama terhadap perkembangan sains ? Misalnya tentang batasan melakukan ijtihad seperti yang disyaratkan para ulama, apakah itu bukan bagian dari pembatasan terhadap kebebasan berpikir ?
Kalau dikaitkan dengan ijtihad, ijtihad itu kan artinya kemampuan untuk menterjemahkan keputusan. Dalam konteks untuk mengembangkan kreativitas, memang tidak boleh ada pengekangan. Tetapi dalam konteks menterjemahkan suatu keputusan, memang harus ada syarat. Tidak usah ijtihadlah, di bawah ijtihad itu kan ada tafsir. Di bawahnya lagi ada persepsi. Kita kan tidak bisa mentafsirkan sebuah produk perundang-undangan tanpa memiliki background ilmu hukum. Harus ada syarat, pertama dia harus menguasai bahasa dulu. Yang kedua, kalau toh saya ngerti bahasa karena ada kamus, tetapi yang namanya bahasa tertulis itu tidak cukup. Ada substansi di balik yang tersirat. Oleh karena itu, orang harus mengerti betul ruh atau hakekat dari yang tersirat itu. Orang yang tidak hadir dalam rapat, akan memahami secara berbeda tentang hasil rapat dengan orang yang hadir. Karena itu di dalam Islam dikenal istilah sahabat, tabi’in, tabi’in wa tabi’in. Jadi sahabat tahu persis tentang teks. Tegasnya, kebebasan berpikir harus terus didorong. Tapi kalau sudah masuk pada wilayah ijtihad, tapi harus ada syaratnya.
Tegasnya, itu bukan bagian dari pengekangan kebebasan berpikir ?
Bukan. Itu malah merupakan dorongan agar seseorang belajar sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Jadi bukan berarti tidak boleh. Boleh saja, tapi pada level tertentu ada syaratnya. Seperti di sekolah, apa jadinya kalau anak-anak kecil menafsirkan soal hukum Newton. Kan rusak.
Masih dalam konteks hubungan agama dan sains, protes para agamawan tentang kloning manusia, apakah itu bukan suatu pengekangan juga ?
Sekali lagi harus ada asas kemanfaatan. Kloning dari sisi sains, bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat modern. Tapi apa akibatnya ? Pengetahuan semaju apapun, selama tidak bersentuhan dengan halal haram, itu bebas-bebas saja. Misalnya kloning antara babi dengan kambing, ini kan berbahaya. Tapi kalau sekedar, dalam biotek misalnya mangga, dari yang kecil di create menjadi besar dan manis, tidak masalah.
Artinya dunia sains dipaksa harus tunduk pada agama ?
Ya, pada daerah-daerah tertentu harus tunduk.
Apakah itu tidak bertentangan dengan ruh sains itu sendiri yang menuntut adanya kebebasan berpikir ?
Ndak, jadi kebebasan itu jangan ditafsirkan kebebasan yang mutlak. Semua bebas. Harus ada batas, batas mana terhadap obyek yang kita bisa mengeluarkan seluruh energi untuk menguak suatu rahasia. Dan kebebasan mana yang tidak perlu kita lakukan. Misalnya perdebatan tentang ruh. Untuk apa mengerahkan seluruh energi untuk mengungkap rahasia tentang ruh. Dalam peta umat Islam, semangat untuk merebut ilmu harus ditumbuhkan kembali.
Dalam konteks perkembangan rasio dan tuntutan spiritualitas, selama ini gerakan dakwah kampus selalu tumbuh subur di kampus-kampus negeri seperti UI, ITB, ITS, UGM dan Unair. Kampus-kampus itu notabene raw materialnya memiliki intelektualitas yang tinggi. Mengapa ?
Itu memang fenomena yang menarik. Sekarang ini klaim monopoli bahwa da’i harus berasal dari kalangan pesantren, tidak mutlak. Banyak da’i berasal dari kampus-kampus umum yang dengan bekal intelektual yang dia miliki, dia bisa belajar. Seperti Aa’ Gym, itu kan backgroundnya teknik elektro. Itu lebih banyak pada kesadaran untuk memahami nilai-nilai agama secara kaffah. Nilai agama itu bukan satu dimensi, tapi multidimensi. Semakin tinggi intelektualitas seseorang, maka tuntutan untuk mempelajari sesuatu secara kaffah semakin tinggi. Dia akan selalu berusaha menambal kekurangan dalam dirinya. Karena itulah di kampus-kampus umum, orang merindukan tasawuf.
Tadi Anda mengakui bahwa peran Islam, utamanya dalam sains, selama ini terpinggirkan, atau setidaknya hanya menjadi middle class ?
Tergantung pada fase kapan. Kalau sekarang, memang ya. Dibandingkan produk-produk keilmuan non muslim, kita jauh tertinggal. Jadi semangatnya bukan terpinggirkan, melainkan tertinggal. Kalau terpinggirkan, itu berarti ada yang meminggirkan. Kesannya seperti menyalahkan orang lain. Yang lebih tepat adalah tertinggal.
Sebagian besar intelektual muslim sempat menyalahkan pemikiran Imam Ghazali yang dianggap mempersempit ruang gerak akal. Karena itu, Imam Ghazali dianggap bertanggungjawab atas kemunduran Islam dalam dunia sains. Anda setuju ?
Setiap ulama itu masanya. Kita tidak bisa mengklaim Al-Ghazali salah, Ibnu Rusdi betul, Ibnu Sina betul. Semua ada masanya. Kondisi geososial dan geopolitik harus turut diperhatikan. Sosio kultural itu sangat mempengaruhi pemikiran seseorang. Dari satu sisi, Al-Ghazali itu orang super. Bayangkan, pemikiran-pemikiran ekonomi yang jarang sekali dikuak, itu Al-Ghazali punya. Coba anda baca pada teks-teks ekonomi syariah, itu teorinya Al-Ghazali. Saya termasuk orang yang mengagumi Al-Ghazali. Bayangkan Ihya’ (Ihya’ Ulumuddin, karya monumental Al-Ghazali, Red), ilmuwan muslim Indonesia yang seproduktif itu, ada nggak ? Karena itu sekarang tidak jamannya saling menyalahkan.
Ke depan, apa yang harus dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan ?
Budaya keilmuan harus kita tumbuhkan di negeri ini. Dan, kita rindu akan adanya anak-anak muda yang memiliki perspektif keilmuan yang bagus. Semangat mencintai ilmu.
Dari sisi teologis, apakah tidak ada kendala ?
Tidak. Malah, teks-teks itu jelas mendorong berkembangnya keilmuan. Tholabul ‘ilmi faridloh (mencari ilmu hukumnya wajib, Red). Ini jelas teks yang sangat strength. Sampai dengan yarfa’illahulladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat (Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, Red). Itu kan teks-teks yang menggairahkan. Wong wahyu pertama saja bunyinya iqra’ (bacalah, Red). Memang, masih saja ada orang yang mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Itu tidak berdasar sama sekali.
Tapi dalam kehidupan sehari-hari beda. Seorang teknokrat misalnya, dia hanya memahami agama dari sisi ritual saja. Tapi tidak ada keberanian untuk mencari relasi yang lebih filosofis.
Harus kita akui itu memang ada. Tapi sekarang yang saya lihat, kecenderungan orang adalah semangat untuk mengintegrasikan antara dua sisi yang berbeda itu. Ini karena adanya kesadaran kolektif akan integrasi dari dua disiplin itu semakin kuat.
Apa yang menyebabkan munculnya kesadaran seperti itu ?
Pertama, karena memang pemilahan itu tidak memiliki landasan teologis yang kuat. Bagaimana orang mengatakan ilmu berhitung sebagai ilmu umum, lalu sholat termasuk ilmu agama. Padahal, di dalam sholat ada bilangan rakaat yang secara filosofis merupakan unsur matematis. Ada lagi kaidah fiqh yang menyebutkan ma lam yutim wajib fahuwa wajib (sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya suatu kewajiban, maka dia menjadi wajib, Red). Kalau kesempurnaan sholat tergantung pada wudlu, maka wudlu menjadi wajib. Kalau kesempurnaan wudlu tergantung pada air yang suci, maka ketersediaan air yang suci menjadi wajib. Dan kalau ketersediaan air suci mempengaruhi kesempurnaan wudlu, maka ilmu untuk mensucikan air itu menjadi wajib. Kalau begitu, ilmu lingkungan yang mempelajari proses penjernihan air menjadi wajib pula. Bahkan lebih jauh lagi, ilmu mencari air juga wajib. Itu kan ilmu geofisik.
Lalu, sosok intelektual muslim yang ideal seperti apa ?
Kata kuncinya pada keutuhan, atau kekaffahan, atau comprehensifness di dalam memahami dan melaksanakan value (nilai) di dalam ajaran keagamaan. Seperti yang saya katakan, semakin tinggi intelektualitas seseorang, seharusnya semakin bisa memahami hakekat Tuhan beserta ajaran-ajarannya. Dua-duanya harus sama-sama jalan. Kalau tidak, akan pincang.
Apa pengertian agama menurut Anda ?
Jadi begini, ada konsep dasar yang harus kita tata. Pertama tentang keberadaan manusia, apakah sebagai sesuatu yang by accident (tiba-tiba ada, Red) atau by design. Saya melihat keberadaan manusia dan makhluk lainnya serta alam semesta ini bukan parhazard (bahasa Perancis, artinya sama dengan by accident), melainkan by design. Ada yang merancang dan merencanakan. Itu bisa dilihat dari beberapa fenomena, baik dari dalam diri manusia itu sendiri maupun dari alam semesta. Yaitu adanya keberaturan, itu yang paling pokok. Adanya keberaturan itu menandakan bahwa kejadian ini bukan by accident. Mulai dari yang sifatnya makrokosmis sampai mikrokosmis. Berangkat dari situ, yang perlu kita pahami adalah bagaimana grand scenario ini bisa diselamatkan. Kata kuncinya adalah harus ada rule of the game. Di situlah pentingnya pertama kali kita harus mengenal siapa yang mendesign ini. Tentu sangat tidak mungkin mobil itu dirancang oleh mobil itu sendiri. Tidak ada manusia yang merancang dirinya sendiri. Dari situlah muncul satu konsep yang namanya Tuhan. Sebenarnya, semua orang secara sadar atau tidak pasti mengakui adanya Tuhan. Pada kondisi tertekan, biasanya seseorang akan mengungkapkan adanya sesuatu yang berada di atas segalanya. Entah itu disebut Duh Gusti, Maha Dewa, Yang Maha Kuasa, Allah atau apa saja. Dari sini kemudian muncul satu pergolakan di dalam pikiran manusia tentang siapa yang disebut Tuhan itu. Persoalannya di situ. Dari sinilah muncul aliran-aliran yang disebut agama itu. Hakikat dari agama ada tiga. Pertama pasti memiliki Tuhan, kedua pasti ada messenger (utusan) dan yang ketiga adanya kitab. Dari situlah muncul
Apa pula pengertian sains menurut Anda ?
Sains merupakan bagian dari agama. Saya tidak melihat sesuatu yang terpisah, ini ilmu ini agama. Bukan. Tetapi di dalam agama itu ada ilmu, part of ad-dien. Apa sebenarnya pengertian sains dengan knowledge ? Kalau di kamus, kata dasarnya sama-sama pengetahuan. Tapi perbedaan mendasarnya ada pada wilayah epistemologis, ontologis dan aksiologis. Yang membedakan adalah pada kaidah-kaidah berpikir tentang bagaimana mendapatkan pengetahuan itu. Makanya ada yang membagi dalam pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah atau sains. Sains selalu melalui 3 tahap itu. Contohnya, semua orang tahu tentang bolpen. Itu pengetahuan biasa. Tapi bisa menjadi pengetahuan ilmiah kalau orang memahami mengapa ini ada, bagaimana ini bisa ada dan untuk apa diadakan. Obyeknya sama, tapi kerangkanya jelas berbeda. Jadi, kalau di kepala seseorang selalu memiliki 3 pendekatan itu, maka dia bisa dikatakan memiliki sikap ilmiah. Kepribadian yang ilmiah.
Lalu bagaimana hubungan antara keduanya ?
Sains itu merupakan bagian dari agama. Karena agama selalu menggunakan pendekatan 3 hal tersebut. Agama itu selalu mengajarkan untuk mencari, ini berkaitan dengan mengapa dan bagaimana. Yang kedua, bukan sekedar mencari, tapi dituntut aspek aksiologisnya. Tentang kemanfaatannya. Oleh karena itu kalau sekedar mendapatkan sesuatu tapi tidak memiliki kemanfaatan, itu berarti kerangka keagamaannya juga tidak ada. Ada satu cerita, seseorang yang memiliki kemampuan memasukkan jarum ke dalam lubang jarum lainnya dari jarak yang cukup jauh. Dia bisa menumpuk jarum hanya dengan melempar jarak jauh. Suatu hari dia dipanggil Raja untuk mendemokan keahliannya. Setelah selesai, Sang Raja memberi uang 100 dirham. Tapi ketika hendak pulang, Sang Raja menarik kerah baju orang itu dan memerintahkan menterinya untuk menghukum cambuk sebanyak 100 kali. Ketika ditanya, dikatakan bahwa uang 100 dirham itu merupakan penghargaan Sang Raja atas keahliannya. Sedang 100 cambuk itu merupakan kekecewaan Sang Raja atas prestasinya. Sang Raja marah karena untuk kemanfaatan apa keahlian itu. Jadi kemanfaatan menjadi kata kunci. Rasulullah mengatakan idzaa maatabnu adama inqothoa amaluhu illa min tsalasa (Ketika anak Adam meninggal maka putuslah seluruh amalnya kecuali tiga, Red). Salah satunya adalah ilmu yang manfaat.
Artinya bahwa sains itu juga harus mengandung unsur kemanfaatan ?
Mestinya, kalau ada kata mestinya itu berarti faktanya selalu kontradiktif. Ilmu manteknya kan begitu. Jadi mestinya bagi orang-orang yang mengaku beragama dengan baik, itu pasti dia harus bisa memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya bagi lingkungan. Khoirunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang memberikan kemanfaatan bagi lingkungan, Red), kan begitu ajarannya. Itu yang harus didorong terus di dalam melakukan perubahan paradigma beragama. Jadi orang harus berlomba-lomba mengejar sains, tapi harus dibingkai dengan agama dalam artian mencari kemanfaatan. Itu bagian dari jihad.
Apakah itu bukan bagian dari hegemoni agama terhadap perkembangan sains ? Misalnya tentang batasan melakukan ijtihad seperti yang disyaratkan para ulama, apakah itu bukan bagian dari pembatasan terhadap kebebasan berpikir ?
Kalau dikaitkan dengan ijtihad, ijtihad itu kan artinya kemampuan untuk menterjemahkan keputusan. Dalam konteks untuk mengembangkan kreativitas, memang tidak boleh ada pengekangan. Tetapi dalam konteks menterjemahkan suatu keputusan, memang harus ada syarat. Tidak usah ijtihadlah, di bawah ijtihad itu kan ada tafsir. Di bawahnya lagi ada persepsi. Kita kan tidak bisa mentafsirkan sebuah produk perundang-undangan tanpa memiliki background ilmu hukum. Harus ada syarat, pertama dia harus menguasai bahasa dulu. Yang kedua, kalau toh saya ngerti bahasa karena ada kamus, tetapi yang namanya bahasa tertulis itu tidak cukup. Ada substansi di balik yang tersirat. Oleh karena itu, orang harus mengerti betul ruh atau hakekat dari yang tersirat itu. Orang yang tidak hadir dalam rapat, akan memahami secara berbeda tentang hasil rapat dengan orang yang hadir. Karena itu di dalam Islam dikenal istilah sahabat, tabi’in, tabi’in wa tabi’in. Jadi sahabat tahu persis tentang teks. Tegasnya, kebebasan berpikir harus terus didorong. Tapi kalau sudah masuk pada wilayah ijtihad, tapi harus ada syaratnya.
Tegasnya, itu bukan bagian dari pengekangan kebebasan berpikir ?
Bukan. Itu malah merupakan dorongan agar seseorang belajar sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Jadi bukan berarti tidak boleh. Boleh saja, tapi pada level tertentu ada syaratnya. Seperti di sekolah, apa jadinya kalau anak-anak kecil menafsirkan soal hukum Newton. Kan rusak.
Masih dalam konteks hubungan agama dan sains, protes para agamawan tentang kloning manusia, apakah itu bukan suatu pengekangan juga ?
Sekali lagi harus ada asas kemanfaatan. Kloning dari sisi sains, bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat modern. Tapi apa akibatnya ? Pengetahuan semaju apapun, selama tidak bersentuhan dengan halal haram, itu bebas-bebas saja. Misalnya kloning antara babi dengan kambing, ini kan berbahaya. Tapi kalau sekedar, dalam biotek misalnya mangga, dari yang kecil di create menjadi besar dan manis, tidak masalah.
Artinya dunia sains dipaksa harus tunduk pada agama ?
Ya, pada daerah-daerah tertentu harus tunduk.
Apakah itu tidak bertentangan dengan ruh sains itu sendiri yang menuntut adanya kebebasan berpikir ?
Ndak, jadi kebebasan itu jangan ditafsirkan kebebasan yang mutlak. Semua bebas. Harus ada batas, batas mana terhadap obyek yang kita bisa mengeluarkan seluruh energi untuk menguak suatu rahasia. Dan kebebasan mana yang tidak perlu kita lakukan. Misalnya perdebatan tentang ruh. Untuk apa mengerahkan seluruh energi untuk mengungkap rahasia tentang ruh. Dalam peta umat Islam, semangat untuk merebut ilmu harus ditumbuhkan kembali.
Dalam konteks perkembangan rasio dan tuntutan spiritualitas, selama ini gerakan dakwah kampus selalu tumbuh subur di kampus-kampus negeri seperti UI, ITB, ITS, UGM dan Unair. Kampus-kampus itu notabene raw materialnya memiliki intelektualitas yang tinggi. Mengapa ?
Itu memang fenomena yang menarik. Sekarang ini klaim monopoli bahwa da’i harus berasal dari kalangan pesantren, tidak mutlak. Banyak da’i berasal dari kampus-kampus umum yang dengan bekal intelektual yang dia miliki, dia bisa belajar. Seperti Aa’ Gym, itu kan backgroundnya teknik elektro. Itu lebih banyak pada kesadaran untuk memahami nilai-nilai agama secara kaffah. Nilai agama itu bukan satu dimensi, tapi multidimensi. Semakin tinggi intelektualitas seseorang, maka tuntutan untuk mempelajari sesuatu secara kaffah semakin tinggi. Dia akan selalu berusaha menambal kekurangan dalam dirinya. Karena itulah di kampus-kampus umum, orang merindukan tasawuf.
Tadi Anda mengakui bahwa peran Islam, utamanya dalam sains, selama ini terpinggirkan, atau setidaknya hanya menjadi middle class ?
Tergantung pada fase kapan. Kalau sekarang, memang ya. Dibandingkan produk-produk keilmuan non muslim, kita jauh tertinggal. Jadi semangatnya bukan terpinggirkan, melainkan tertinggal. Kalau terpinggirkan, itu berarti ada yang meminggirkan. Kesannya seperti menyalahkan orang lain. Yang lebih tepat adalah tertinggal.
Sebagian besar intelektual muslim sempat menyalahkan pemikiran Imam Ghazali yang dianggap mempersempit ruang gerak akal. Karena itu, Imam Ghazali dianggap bertanggungjawab atas kemunduran Islam dalam dunia sains. Anda setuju ?
Setiap ulama itu masanya. Kita tidak bisa mengklaim Al-Ghazali salah, Ibnu Rusdi betul, Ibnu Sina betul. Semua ada masanya. Kondisi geososial dan geopolitik harus turut diperhatikan. Sosio kultural itu sangat mempengaruhi pemikiran seseorang. Dari satu sisi, Al-Ghazali itu orang super. Bayangkan, pemikiran-pemikiran ekonomi yang jarang sekali dikuak, itu Al-Ghazali punya. Coba anda baca pada teks-teks ekonomi syariah, itu teorinya Al-Ghazali. Saya termasuk orang yang mengagumi Al-Ghazali. Bayangkan Ihya’ (Ihya’ Ulumuddin, karya monumental Al-Ghazali, Red), ilmuwan muslim Indonesia yang seproduktif itu, ada nggak ? Karena itu sekarang tidak jamannya saling menyalahkan.
Ke depan, apa yang harus dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan ?
Budaya keilmuan harus kita tumbuhkan di negeri ini. Dan, kita rindu akan adanya anak-anak muda yang memiliki perspektif keilmuan yang bagus. Semangat mencintai ilmu.
Dari sisi teologis, apakah tidak ada kendala ?
Tidak. Malah, teks-teks itu jelas mendorong berkembangnya keilmuan. Tholabul ‘ilmi faridloh (mencari ilmu hukumnya wajib, Red). Ini jelas teks yang sangat strength. Sampai dengan yarfa’illahulladzina amanu minkum walladzina utul ilma darajat (Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu, Red). Itu kan teks-teks yang menggairahkan. Wong wahyu pertama saja bunyinya iqra’ (bacalah, Red). Memang, masih saja ada orang yang mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Itu tidak berdasar sama sekali.
Tapi dalam kehidupan sehari-hari beda. Seorang teknokrat misalnya, dia hanya memahami agama dari sisi ritual saja. Tapi tidak ada keberanian untuk mencari relasi yang lebih filosofis.
Harus kita akui itu memang ada. Tapi sekarang yang saya lihat, kecenderungan orang adalah semangat untuk mengintegrasikan antara dua sisi yang berbeda itu. Ini karena adanya kesadaran kolektif akan integrasi dari dua disiplin itu semakin kuat.
Apa yang menyebabkan munculnya kesadaran seperti itu ?
Pertama, karena memang pemilahan itu tidak memiliki landasan teologis yang kuat. Bagaimana orang mengatakan ilmu berhitung sebagai ilmu umum, lalu sholat termasuk ilmu agama. Padahal, di dalam sholat ada bilangan rakaat yang secara filosofis merupakan unsur matematis. Ada lagi kaidah fiqh yang menyebutkan ma lam yutim wajib fahuwa wajib (sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya suatu kewajiban, maka dia menjadi wajib, Red). Kalau kesempurnaan sholat tergantung pada wudlu, maka wudlu menjadi wajib. Kalau kesempurnaan wudlu tergantung pada air yang suci, maka ketersediaan air yang suci menjadi wajib. Dan kalau ketersediaan air suci mempengaruhi kesempurnaan wudlu, maka ilmu untuk mensucikan air itu menjadi wajib. Kalau begitu, ilmu lingkungan yang mempelajari proses penjernihan air menjadi wajib pula. Bahkan lebih jauh lagi, ilmu mencari air juga wajib. Itu kan ilmu geofisik.
Lalu, sosok intelektual muslim yang ideal seperti apa ?
Kata kuncinya pada keutuhan, atau kekaffahan, atau comprehensifness di dalam memahami dan melaksanakan value (nilai) di dalam ajaran keagamaan. Seperti yang saya katakan, semakin tinggi intelektualitas seseorang, seharusnya semakin bisa memahami hakekat Tuhan beserta ajaran-ajarannya. Dua-duanya harus sama-sama jalan. Kalau tidak, akan pincang.
Komentar
Posting Komentar