Blar…blar…blar !!! Pesta kembang api menyambut tahun baru 2013 telah usai. Gemuruh pesta kembang api itu seolah menjadi gong pembuka babak baru dagelan politik dari para elit di republik ini. Tak pelak, publik kembali mendapat tontonan memalukan di penghujung Januari. Adalah Ahmad Fathonah (AF) yang tertangkap tangan melalui operasi penggerebekan yang digelar KPK. Penangkapan AF berujung pada penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) sebagai tersangka dugaan suap impor daging sapi.
Tentu saja, berita ini dengan cepat menggegerkan jagat nasional. Beragam komentar menghiasi dunia maya melalui media-media sosial seperti facebook, twitter, gogle+, blog dan media sosial lainnya. Yang pasti, publik tersontak kaget dengan peristiwa ini sehingga menjadi perbincangan hangat. Reaksi publik – mungkin – bisa dianggap berlebihan tidak seperti peristiwa lainnya. Mengapa demikian?
Pertama, tentu saja karena PKS adalah partai yang selama ini paling getol menggunakan simbol-simbol agama. Dengan simbol agama, memang lebih mudah untuk mendapatkan dukungan publik. Dan ini tentu saja efektif untuk mendulang suara di pemilu. Tetapi cara seperti ini bukan tanpa resiko. Dengan simbol agama, ekspektasi publik terhadap partai akan semakin tinggi. Resikonya, jika elit partai ini cacat amanah, maka kekecewaan publik pun akan jauh lebih besar dan gaungnya bisa kemana-mana.
Yang kedua, bahwa yang terlibat dalam kasus ini bukan orang biasa. Tak tanggung-tanggung, kasus ini menyeret orang nomer satu di PKS. Publik tahu bahwa ‘partai putih’ ini memiliki jenjang kaderisasi yang sangat ketat. Dengan model organisasi seperti ini, tentu saja bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke kursi pucuk pimpinan. Jika kemudian orang nomer satu ini bermasalah, maka bukan hanya jenjang kaderisasi partai yang menjadi sorotan. Tetapi juga mengarah pada motif di balik kasus korupsinya serta kemungkinan keterlibatan petinggi partai lainnya. Sebab dalam rentetan setahun terakhir, sebenarnya ada sederetan nama lain yang sering dikaitkan dengan permainan impor daging sapi.
Blunder
Selang beberapa jam setelah peristiwa ini mencuat ke permukaan, para petinggi partai langsung merespon. Beragam tanggapan dilontarkan. Tiffatul Sembiring (TS) misalnya, dalam akun twitternya menyebut bahwa ini adalah ‘musibah’. Artinya, bahwa publik diajak untuk masuk ke ranah teologi. Jika masuk ke dalam ranah teologi, bisa jadi perdebatan akan lebih panjang. Sebab selain ‘musibah’, dalam terminologi Islam juga dikenal ‘azab’. Lebih dalam lagi bahwa keduanya berkaitan erat dengan qada’ dan qadar.
Barangkali TS tidak sedang menggiring publik untuk berdebat lebih jauh di dalam ranah teologi. Tetapi yang diharapkan TS sebenarnya adalah ‘reaksi’ dari publik setelahnya. Dengan melabeli ‘musibah’ atas peristiwa ini, maka reaksi yang diharapkan adalah simpatik publik. Bukan cemooh, kecaman apalagi sikap antipati. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pemilu – dalam kalender politik – tidak lama lagi bakal digelar.
Reaksi juga muncul dari Hidayat Nurwahid (HN) yang mensinyalir keterlibatan Zionis. Tudingan ini mengundang reaksi Dina Y Sulaeman, seorang pemerhati Timur Tengah sekalilgus penulis buku “Obama Revealed”. Dia menambahkan catatan kaki dalam tulisannya, kalau masalah PKS dikaitkan dengan Zionis, Illuminate dan Freemason, justru muncul tanda tanya besar. Mengapa LHI mengacungkan ‘salam 3 jari’ (tanduk setan) yang jelas-jelas merupakan simbol dari Illuminate saat ditangkap KPK?
Tanggapan lainnya yang sempat jadi perbincangan publik adalah orasi politik dari mantan Sekjen Anis Matta (AM) yang sekarang menggantikan LHI sebagai Presiden PKS. AM melontarkan teori konspirasi dengan mengatakan bahwa ada konspirasi besar untuk menghancurkan PKS.Meski kemudian belakangan AM menginstruksikan kepada seluruh pengurus partai untuk tidak lagi menggunakan teori konspirasi.
Sebenarnya, apa yang dilontarkan AM ini cukup menarik. Sebab, teori konspirasi adalah satu-satunya teori yang tanpa teori. Karena kelenturannya itulah, teori ini paling mudah digunakan dalam menyikapi masalah apapun. Teori ini hanya butuh ketrampilan merangkai sejumlah data pendukung dengan disertai sedikit saja argumentasi yang – seolah-olah – logis.
Namun sayangnya, AM dan HN tidak menyadari bahwa pernyataannya itu bisa jadi blunder.Publik pun sekarang menuntut agar AM dan HN bisa membuktikan tuduhannya itu. Meski sebenarnya tidak perlu dilakukan. Sebab, teori konspirasi memang tidak pernah bisa dibuktikan sesuai hukum positif. Tetapi setidaknya, AM dan HN bisa menghadirkan sebuah argumentasi kuat yang dirangkai berdasarkan data-data pendukung. Dan argumentasi itu bisa diterima bukan hanya oleh kadernya sendiri tetapi bisa sampai ke nalar publik. Sayangnya, sampai hari ini tidak ada. Yang ada hanyalah sekedar menyodorkan data-data yang – dianggap – janggal serta spekulasi yang sepotong-sepotong.
AM tampaknya tidak ingin menuntaskan teori konspirasinya. Sikap AM ini dalam teori propaganda dikenal dengan istilah Intentional Vagueness (ketidakjelasan yang disengaja). Politisi muda yang paling berpengaruh di PKS ini lebih memilih diam sambil melakukan road show menemui kader partai. Langkah ini sangat tepat karena bagaimana pun juga moralitas kader memberikan andil yang sangat besar terhadap partai ini.
Di sinilah, teori konspirasi yang dilontarkan AM menjadi blunder. Seharusnya, wacana konspirasi merupakan komunikasi politikinternal. Artinya, bahwa itu hanya ditujukan untuk kader partai. Dengan karakter kader yang loyal, wacana konspirasi itu akan langsung diamini dan bisa menjadi perekat kader untuk lebih solid. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Wacana itu sudah terlanjur mencuat ke publik yang sekarang menuntut penjelasan.
Refeleksi
Bagi sebagian orang, kasus korupsi yang menimpa PKS saat ini boleh jadi bagaikan hentakan yang mengejutkan. Tapi jika mau meruntut dinamika partai beberapa tahun terakhir, sebenarnya bukan hal yang tidak bisa diprediksikan.
Meski tidak sempat mencuat ke permukaan, tapi aromanya bisa dirasakan. Prahara ini bermula dari proses peralihan dari PK menjadi PKS yang ternyata belum tuntas. Bukan semata-mata pada soal penambahan “S”nya. Tetapi lebih kepada perilaku petinggi partai yang dianggap sudah masuk terlalu jauh pada pusaran pertarungan politik kekuasaan.
Menurut penulis buku “Ideologi Politik PKS” Imdadun Rahmat, ketegangan ini sudah dimulai sejak 2008. Menurutnya, kader PKS terbelah dua. Yakni Faksi Keadilan yang bersikap kritis terhadap partai dan Faksi Sejahtera yang mendominasi kepengurusan sekarang. Faksi K sendiri terbelah lagi dalam 2 kelompok. Yakni Forum Penyelamat PKS atau Forum Kader Peduli PKS, dan kelompok jaringan dai Korps Muballigh Khoiru Umah.
Puncak ketegangan ini adalah sikap frontal yang ditunjukkan pendiri PK Ustadz Yusuf Supendi dengan membeberkan aib dari petinggi partai. Yusuf pernah melaporkan AM, LHI dan Mahfdudz Shidiq ke BK DPR dengan tuduhan melakukan penyimpangan norma dan etika anggota dewan (detik.com).
Tak hanya berhenti di situ. Seperti berita yang pernah dilansir Detik.com, Yusuf bahkan melaporkan AM ke KPK dengan tuduhan melakukan penggelapan dana partai senilai Rp 10 M dari total Rp 40 M sumbangan Adang Daradjatun dalam pemilukada 2007. Yusuf juga pernah melaporkan LHI (ketika itu menjabat sebagai bendara partai) atas pengelolaan dana Rp 34 M dari Jusuf Kalla pada Pilpres 2004. Faksi S menanggapi semua tuduhan itu dengan mewacanakan bahwa apa yang dilakukan Yusuf adalah serangan balik sebagai bentuk kekecewaan atas pemecatan dirinya.
Yusuf juga mengkritik gaya hidup petinggi partai yang bermewah-mewahan yang dianggap tidak sejalan dengan nafas partai. Belakangan, jam Rolex AM seolah menjadi pembenar atas tuduhan tersebut. Entah benar apa tidak, yang pasti The Jakarta Post pernah menurunkan berita tentang Padepokan Madani atau lebih sering disebut “PKS Base Camp” (http://m.thejakartapost.com/news/2011/03/29/deciphering-influence-pks-puppet-master-hilmi.html). Yakni sebuah villa mewah seluas 1,3 hektare milik Hilmi Aminuddin di Perbukitan Pagerwangi Lembang. Villa ini memiliki 43 kamar, 8 ruang pertemuan serta ruang makan yang mewah. Di salah satu ruangannya juga terdapat Safe Deposit Box sepanjang 2 meter yang berisi uang tunai dalam bentuk US $ untuk mendanai kegiatan partai. Dalam laporannya, banyak mobil mewah yang keluar masuk villa ini. Dari sinilah komando dari Faksi S dirancang.
Apapun yang terjadi, percaturan politik jagad nasional memang masih kental dengan kebohongan-kebohongan. Tentu, publik pun berharap agar “era kegelapan” ini segera berakhir sehingga pertarungan politik di negeri ini tidak mengorbankan hak-hak rakyat. Bukankah tujuan didirikannya sebuah negara adalah untuk kesejahteraan rakyatnya?
Tentu saja, berita ini dengan cepat menggegerkan jagat nasional. Beragam komentar menghiasi dunia maya melalui media-media sosial seperti facebook, twitter, gogle+, blog dan media sosial lainnya. Yang pasti, publik tersontak kaget dengan peristiwa ini sehingga menjadi perbincangan hangat. Reaksi publik – mungkin – bisa dianggap berlebihan tidak seperti peristiwa lainnya. Mengapa demikian?
Pertama, tentu saja karena PKS adalah partai yang selama ini paling getol menggunakan simbol-simbol agama. Dengan simbol agama, memang lebih mudah untuk mendapatkan dukungan publik. Dan ini tentu saja efektif untuk mendulang suara di pemilu. Tetapi cara seperti ini bukan tanpa resiko. Dengan simbol agama, ekspektasi publik terhadap partai akan semakin tinggi. Resikonya, jika elit partai ini cacat amanah, maka kekecewaan publik pun akan jauh lebih besar dan gaungnya bisa kemana-mana.
Yang kedua, bahwa yang terlibat dalam kasus ini bukan orang biasa. Tak tanggung-tanggung, kasus ini menyeret orang nomer satu di PKS. Publik tahu bahwa ‘partai putih’ ini memiliki jenjang kaderisasi yang sangat ketat. Dengan model organisasi seperti ini, tentu saja bukan hal yang mudah untuk bisa sampai ke kursi pucuk pimpinan. Jika kemudian orang nomer satu ini bermasalah, maka bukan hanya jenjang kaderisasi partai yang menjadi sorotan. Tetapi juga mengarah pada motif di balik kasus korupsinya serta kemungkinan keterlibatan petinggi partai lainnya. Sebab dalam rentetan setahun terakhir, sebenarnya ada sederetan nama lain yang sering dikaitkan dengan permainan impor daging sapi.
Blunder
Selang beberapa jam setelah peristiwa ini mencuat ke permukaan, para petinggi partai langsung merespon. Beragam tanggapan dilontarkan. Tiffatul Sembiring (TS) misalnya, dalam akun twitternya menyebut bahwa ini adalah ‘musibah’. Artinya, bahwa publik diajak untuk masuk ke ranah teologi. Jika masuk ke dalam ranah teologi, bisa jadi perdebatan akan lebih panjang. Sebab selain ‘musibah’, dalam terminologi Islam juga dikenal ‘azab’. Lebih dalam lagi bahwa keduanya berkaitan erat dengan qada’ dan qadar.
Barangkali TS tidak sedang menggiring publik untuk berdebat lebih jauh di dalam ranah teologi. Tetapi yang diharapkan TS sebenarnya adalah ‘reaksi’ dari publik setelahnya. Dengan melabeli ‘musibah’ atas peristiwa ini, maka reaksi yang diharapkan adalah simpatik publik. Bukan cemooh, kecaman apalagi sikap antipati. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pemilu – dalam kalender politik – tidak lama lagi bakal digelar.
Reaksi juga muncul dari Hidayat Nurwahid (HN) yang mensinyalir keterlibatan Zionis. Tudingan ini mengundang reaksi Dina Y Sulaeman, seorang pemerhati Timur Tengah sekalilgus penulis buku “Obama Revealed”. Dia menambahkan catatan kaki dalam tulisannya, kalau masalah PKS dikaitkan dengan Zionis, Illuminate dan Freemason, justru muncul tanda tanya besar. Mengapa LHI mengacungkan ‘salam 3 jari’ (tanduk setan) yang jelas-jelas merupakan simbol dari Illuminate saat ditangkap KPK?
Tanggapan lainnya yang sempat jadi perbincangan publik adalah orasi politik dari mantan Sekjen Anis Matta (AM) yang sekarang menggantikan LHI sebagai Presiden PKS. AM melontarkan teori konspirasi dengan mengatakan bahwa ada konspirasi besar untuk menghancurkan PKS.Meski kemudian belakangan AM menginstruksikan kepada seluruh pengurus partai untuk tidak lagi menggunakan teori konspirasi.
Sebenarnya, apa yang dilontarkan AM ini cukup menarik. Sebab, teori konspirasi adalah satu-satunya teori yang tanpa teori. Karena kelenturannya itulah, teori ini paling mudah digunakan dalam menyikapi masalah apapun. Teori ini hanya butuh ketrampilan merangkai sejumlah data pendukung dengan disertai sedikit saja argumentasi yang – seolah-olah – logis.
Namun sayangnya, AM dan HN tidak menyadari bahwa pernyataannya itu bisa jadi blunder.Publik pun sekarang menuntut agar AM dan HN bisa membuktikan tuduhannya itu. Meski sebenarnya tidak perlu dilakukan. Sebab, teori konspirasi memang tidak pernah bisa dibuktikan sesuai hukum positif. Tetapi setidaknya, AM dan HN bisa menghadirkan sebuah argumentasi kuat yang dirangkai berdasarkan data-data pendukung. Dan argumentasi itu bisa diterima bukan hanya oleh kadernya sendiri tetapi bisa sampai ke nalar publik. Sayangnya, sampai hari ini tidak ada. Yang ada hanyalah sekedar menyodorkan data-data yang – dianggap – janggal serta spekulasi yang sepotong-sepotong.
AM tampaknya tidak ingin menuntaskan teori konspirasinya. Sikap AM ini dalam teori propaganda dikenal dengan istilah Intentional Vagueness (ketidakjelasan yang disengaja). Politisi muda yang paling berpengaruh di PKS ini lebih memilih diam sambil melakukan road show menemui kader partai. Langkah ini sangat tepat karena bagaimana pun juga moralitas kader memberikan andil yang sangat besar terhadap partai ini.
Di sinilah, teori konspirasi yang dilontarkan AM menjadi blunder. Seharusnya, wacana konspirasi merupakan komunikasi politikinternal. Artinya, bahwa itu hanya ditujukan untuk kader partai. Dengan karakter kader yang loyal, wacana konspirasi itu akan langsung diamini dan bisa menjadi perekat kader untuk lebih solid. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Wacana itu sudah terlanjur mencuat ke publik yang sekarang menuntut penjelasan.
Refeleksi
Bagi sebagian orang, kasus korupsi yang menimpa PKS saat ini boleh jadi bagaikan hentakan yang mengejutkan. Tapi jika mau meruntut dinamika partai beberapa tahun terakhir, sebenarnya bukan hal yang tidak bisa diprediksikan.
Meski tidak sempat mencuat ke permukaan, tapi aromanya bisa dirasakan. Prahara ini bermula dari proses peralihan dari PK menjadi PKS yang ternyata belum tuntas. Bukan semata-mata pada soal penambahan “S”nya. Tetapi lebih kepada perilaku petinggi partai yang dianggap sudah masuk terlalu jauh pada pusaran pertarungan politik kekuasaan.
Menurut penulis buku “Ideologi Politik PKS” Imdadun Rahmat, ketegangan ini sudah dimulai sejak 2008. Menurutnya, kader PKS terbelah dua. Yakni Faksi Keadilan yang bersikap kritis terhadap partai dan Faksi Sejahtera yang mendominasi kepengurusan sekarang. Faksi K sendiri terbelah lagi dalam 2 kelompok. Yakni Forum Penyelamat PKS atau Forum Kader Peduli PKS, dan kelompok jaringan dai Korps Muballigh Khoiru Umah.
Puncak ketegangan ini adalah sikap frontal yang ditunjukkan pendiri PK Ustadz Yusuf Supendi dengan membeberkan aib dari petinggi partai. Yusuf pernah melaporkan AM, LHI dan Mahfdudz Shidiq ke BK DPR dengan tuduhan melakukan penyimpangan norma dan etika anggota dewan (detik.com).
Tak hanya berhenti di situ. Seperti berita yang pernah dilansir Detik.com, Yusuf bahkan melaporkan AM ke KPK dengan tuduhan melakukan penggelapan dana partai senilai Rp 10 M dari total Rp 40 M sumbangan Adang Daradjatun dalam pemilukada 2007. Yusuf juga pernah melaporkan LHI (ketika itu menjabat sebagai bendara partai) atas pengelolaan dana Rp 34 M dari Jusuf Kalla pada Pilpres 2004. Faksi S menanggapi semua tuduhan itu dengan mewacanakan bahwa apa yang dilakukan Yusuf adalah serangan balik sebagai bentuk kekecewaan atas pemecatan dirinya.
Yusuf juga mengkritik gaya hidup petinggi partai yang bermewah-mewahan yang dianggap tidak sejalan dengan nafas partai. Belakangan, jam Rolex AM seolah menjadi pembenar atas tuduhan tersebut. Entah benar apa tidak, yang pasti The Jakarta Post pernah menurunkan berita tentang Padepokan Madani atau lebih sering disebut “PKS Base Camp” (http://m.thejakartapost.com/news/2011/03/29/deciphering-influence-pks-puppet-master-hilmi.html). Yakni sebuah villa mewah seluas 1,3 hektare milik Hilmi Aminuddin di Perbukitan Pagerwangi Lembang. Villa ini memiliki 43 kamar, 8 ruang pertemuan serta ruang makan yang mewah. Di salah satu ruangannya juga terdapat Safe Deposit Box sepanjang 2 meter yang berisi uang tunai dalam bentuk US $ untuk mendanai kegiatan partai. Dalam laporannya, banyak mobil mewah yang keluar masuk villa ini. Dari sinilah komando dari Faksi S dirancang.
Apapun yang terjadi, percaturan politik jagad nasional memang masih kental dengan kebohongan-kebohongan. Tentu, publik pun berharap agar “era kegelapan” ini segera berakhir sehingga pertarungan politik di negeri ini tidak mengorbankan hak-hak rakyat. Bukankah tujuan didirikannya sebuah negara adalah untuk kesejahteraan rakyatnya?


Komentar
Posting Komentar