Langsung ke konten utama

Sholawat vs Istighfar

Kecil di mata Allah


Pagi-pagi Wakidi dan Saridin sudah ribut. Apa yang diributkan? Mereka berdebat tentang mana yg harus didahulukan, antara sholawat dan istighfar. Menurut Wakidi sholawatlah yg harus dikedepankan sebagai bentuk kecintaan kepada Kanjeng Nabi. Sebaliknya, Saridin ngotot bahwa istighfarlah yang harus diutamakan sebagai bentuk penghambaan.



Untuk memuaskan, mereka berdua mendatangi ustadz muda di kampung.


"Ya jelas istighfarlah," jawab ustadz. Lalu ustadz muda ini langsung membacakan sebuah hadits :


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “


Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”


"Tuh, kan? Yang benar istighfar dulu kan? Persis seperti yang saya lihat di tipi-tipi," kata Saridin makin semangat.


Tapi rupanya Wakidi tak mau menyerah. Dia pun mengajak Saridin untuk menemui Eyang yang dianggap memahami tasawuf.


"Dawuhe guru sing ahli ma'rifat, niatono nyuwun pangapuro marang Gusti Allah nang njero atimu sing temen-temen. Tapi olehmu nyuwun pangapuro kuwi nyuwuno pangestu soko Kanjeng Nabi kelawan moco sholawat," tutur Eyang. Jadi, secara lisan membaca sholawat tapi hati dijaga untuk terus beristighfar.


Eyang pun menjelaskan, betapa susahnya manusia itu bertawajjuh (menghadapkan muka) kepada Allah ketika beribadah. Mengapa demikian? Karena buanyak hal yg menyebabkan hati kita ini tertutup dari Allah. Di situlah ketidaksempurnaan kita. Sekhusyu' apapun kita. Dalam satu kali sholat saja, lebih dari separo waktu hati kita tak bisa menghadap Gusti Allah. Itu kalau kita mau jujur dan merendahkan diri di hadapan Gusti Allah.


Karena itu sebagian besar para wali dan ulama sufi, selalu melibatkan Kanjeng Nabi ketika bertawajjuh. Dengan menggandeng Kanjeng Nabi, kita berharap Gusti Allah mau mengampuni ketidaksempurnaan ibadah kita lalu menurunkan rahmat-Nya sehingga apa-apa yang menjadi penghalang hati kita dihilangkan oleh Gusti Allah.


"Di situlah perlunya rabithah (bertautan hati). Para wali dan sufi ber-rabithah kepada Kanjeng Nabi. Para ulama ber-rabithah kepada para wali sampai kepada Kanjeng Nabi. Nah, kita orang awam yang bukan apa-apa ini, cantholno awakmu iku nang poro ulama, poro wali sampai ke Kanjeng Nabi," jelas Eyang.


"Emangnya ga boleh ya Eyang kalau kita langsung menghadap Gusti Allah? Bukankah Allah itu maha segalanya," Saridin pun ngeyel.


"Yen kowe rumongso iso, silakan. Opo kowe wis siap diblejeti ketidaksempurnaanmu karo Gusti Allah? Dan itulah yg dilakukan poro wali. Mereka semua merasa hina di hadapan Gusti Allah hingga perlu ber-rabithah kepada Kanjeng Nabi," jawab Eyang.


Sudahkah Anda memiliki guru untuk dicantoli?


Alfaqir ilaa rahmatillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Cantik Yang Haram

Out of The Box 411 : Bunga Cantik Yang Haram “ …Pihak berwenang Hong Kong telah menyatakan empat dari orang-orang Cina tersebut sebagai orang-orang yang berbahaya karena mereka merupakan anggota masyarakat kriminal Cina yang dikenal sebagai Masyarakat Triad Pang Hijau yang sebelum tahun 1949 beroperasi di Cina Utara… ” – Diambil dari buku “ The Chinese Mafia ” – Ditulis oleh seorang pengacara Fenton Bresler yang melakukan investigasi ke berbagai negara selama 3 tahun khusus untuk mempersiapkan buku ini.

Jangan Lihat Sampulnya !

Wakidi : nanti kalau sholat jum'at, aku pengen pake baju terbaikku. Pengen pake parfumku yg paling mahal. Songkok terbaik dan juga sarung termahalku yang jarang tak pake . Saridin : Kok tumben... emang ada apa? Wakidi : Ya namanya mau menghadap Allah, masak mau asal-asalan?  

Lha Lak Thekor Aku !

Pagi itu Totok duduk selonjor di emperan halaman rumah saya. Ia duduk tepat di samping sepeda motornya yang sedang membonceng dua keranjang penuh sayuran. “Sayur…sayur,” teriaknya sembari mengelap tetesan keringat yang meluncur menelusuri ruas wajahnya. Ya, Totok adalah tukang sayur yang setiap pagi melintas di gang rumah. Usianya sekitar 30 tahunan. Karena sudah langganan, saya pun tahu dari istri bahwa dia sudah beranak dua. Yang pertama SMP, dan yang kedua masih duduk di bangku SD.