
Momok Tarekat
Pengantar
Ada hantu menyeramkan yang bergentangan di Eropa
Hantu itu bernama komunisme
Begitulah sejarah mencatat pergerakan sosial politik di sejumlah negara pada kisaran tahun 1800-an. Komunisme begitu ditakuti karena banyak melahirkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap tatanan kemapanan yang dipelopori kaum kapitalis-borjuis. Gerakan-gerakan itu bahkan acapkali berujung pada pembantaian atas nama kepentingan rakyat jelata. Kaum komunis seolah-olah hanya memberikan 2 pilihan. Jika diam, maka keadaan tidak akan pernah berubah. Artinya, kesejahteraan dan kebahagiaan yang menjadi impian setiap manusia hanyalah sebuah mimpi belaka. Karena itu, mau tidak mau rakyat digiring untuk memilih ambil bagian dari gerakan revolusi. Sebab dengan begitu, ada harapan untuk kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Tapi apa yang terjadi? Komunisme pun gagal mengantarkan manusia mencapai kebahagiaan yang hakiki. Banyak hal yang menjadi penyebab utama kegagalan komunisme. Tapi kesalahan yang paling mendasar adalah karena sejatinya komunisme lahir dari paham materialisme. Dengan kata lain, komunisme (dan segala turunannya) memiliki akar filsafat yang sama dengan kapitalisme (dengan segala turunannya).
Karena itu, diskursus sosial politik antara komunisme dan kapitalisme, tidak akan pernah berhasil menemukan jawaban. Meski sama-sama bertujuan memanusiakan manusia, tapi keduanya gagal memahami manusia secara utuh. Materialisme justru menjerumuskan peradaban manusia pada tatanan yang semakin jauh dari kebahagiaan dan kemuliaan seperti yang dicita-citakan.
Gerakan Tarekat
“Tidak kurang dari 112 kali pemberontakan terhadap Belanda sepanjang tahun 1800-1900 dipelopori oleh para pemimpin tarekat”
-Koloniaal Archive-
Gerakan penganut thoriqoh atau biasa disebut Gerakan Tarekat, menorehkan catatan dengan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dan gerakan inilah yang paling ditakuti Bangsa Belanda sebagai bangsa penjajah. Gerakan Tarekat ini tak ubahnya bagai momok yang sangat menyeramkan hingga membuat kaum kompeni tak pernah bisa tidur nyenyak.
Sejak awal kedatangannya di Batavia, Belanda sudah mendapatkan perlawanan sengit dari Sultan Agung (1626-1628). Selain sebagai Raja Mataram, Sultan Agung adalah seorang mursyid (guru/pemimpin tarekat) kelima Tarekat Akmaliyah dengan silsilah Panembahan Senopati – Sultan Hadiwijaya – Ki Kebo Kenongo – Syeikh Siti Jenar. Perlawanan ini sesuai dengan isyarah yang diterima Syeikh Siti Jenar akan datangnya “Kebo bule moto kucing” yang akan merongrong aqidah umat Islam serta menyengsarakan rakyat.
Setelah Sultan Agung wafat, Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I dan dilanjutkan Amangkurat II yang kongkalikong dan berpihak kepada VOC. Amangkurat I dan Amangkurat II bertindak sewenang-wenang dan menindas rakyatnya. Bahkan sejarah mencatat, atas usulan kompeni, pihak kerajaan melakukan penangkapan, penyiksaan dan bahkan pembunuhan terhadap para ulama dan santri. Situasi ini akhirnya melahirkan pemberontakan di bawah pimpinan Trunojoyo (1775-1778) atas perintah mertuanya Panembahan Rama yang juga merupakan guru tarekat.
Sejarah juga mencatat peran Syeikh Yusuf Tajul Khalwati yang mempelopori pemberontakan di Makasar dan Banten. Beliau adalah mursyid Tarekat Khalwatiyah yang membantu Sultan Ageng Tirtayasa memerangi VOC. Liciknya, kompeni berhasil mempengaruhi Sultan Haji (putra mahkota) dan menjadikannya sebagai pemimpin perang melawan ayahnya sendiri. Syeikh Yusuf Tajul inilah yang memperkenalkan Ilmu Debus yang hingga hari ini identik dengan masyarakat Banten.
Gerakan Tarekat terbesar dan paling fenomenal adalah perjuangan di bawah komando Pangeran Diponegoro. Dalam Babad Diponegoro, Pangeran Diponegoro mengenalkan dirinya sebagai mursyid Tarekat Syathariyah yang dibai’at langsung Syeikh Taftazani (Sumatera Barat). Dalam gerakannya, Pangeran Diponegoro menekankan pentingnya “sawwu sufuu fakum” yang kemudian disimbolkan dengan gerakan menanam pohon sawo. Konon, pohon sawo yang terdapat di sejumlah pesantren tua itu merupakan simbol sebagai bagian dari gerakan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Secara umum, Gerakan Tarekat di Indonesia pada masa penjajahan Belanda dilatarbelakangi karena adanya ancaman terhadap keberlangsungan sosio-kultural-religius yang sudah mengakar di wilayah nusantara. Sayangnya, gerakan perlawanan yang sangat heroik itu boleh dikata gagal mencapai tujuannya. Mengapa gagal? Sebab gerakan itu hanya dilakukan oleh murid-murid tarekat yang notabene adalah orang-orang kelas bawah yang tidak punya bekal keilmuan dan pengalaman tentang peperangan. Padahal, yang mereka hadapi adalah kekuatan militer profesional yang sudah terlatih.
Barulah ketika Jepang masuk Indonesia, terjadi perubahan strategi gerakan. Para mursyid dan guru2 tarekat, tidak lagi hanya mengandalkan murid-muridnya dalam berjuang. Mereka pun mulai membuka diri untuk mengkaji serius ilmu2 di luar tasawuf. Seperti ilmu persenjataan, baris berbaris, kemiliteran dan berbagai ilmu yang dibutuhkan dalam proses peperangan. Perubahan ini dipicu oleh politik Jepang yang sangat aktif menciptakan satuan militer dan para militer. Kebijakan ini langsung dimanfaatkan para mursyid dan guru2 tarekat. Sebagian di antara mereka mengambil langsung tongkat komandonya, sebagian lagi memasang muridnya untuk menduduki posisi strategis. Dan atas ijin Allah, akhirnya cita-cita mengusir penjajah berhasil diraih.
Materialisme vs Spiritualisme
Beragam aliran filsafat dan teori sosial dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat. Mulai dari komunisme, sosialisme, kapitalisme, Leninisme, pragmatisme dan sederetan isme-isme lainnya yang diimplementasikan melalui beragam eksperimen sosial. Semua bertujuan untuk mengantarkan manusia mencapai puncak kehidupan, yaitu kebahagiaan.
Namun apa yang terjadi? Manusia semakin terasing dengan dirinya sendiri. Alih2 memperoleh kebahagiaan yang dicari, yang terjadi malah justru sebaliknya. Masalah sosial terus bermunculan dan hampir selalu menghiasi kolom berita di sejumlah media massa setiap harinya. Mulai dari korupsi, perampokan, pembunuhan, penipuan, pencurian, penindasan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kekerasan, bunuh diri, kelainan jiwa, perselingkuhan, perkosaan hingga ke penyimpangan seksual.
Mengapa bisa terjadi? Karena teori-teori sosial (sosialisme, kapitalisme, komunisme, dll) yang dijadikan acuan untuk menata kehidupan sosial ini semua bersumber pada MATERIALISME. Sementara materialisme sendiri – dalam pengertian yang sederhana – hanya mengandalkan pada panca indera sebagai instrumennya. Padahal Islam mengajarkan bahwa kehidupan ini terdiri dari 3 dimensi. Yakni dzahir (materiil), hati (immateriil) dan ruh. Masing-masing memiliki piranti. Ilmu syariat bertugas melakukan toto lahir, ilmu thoriqoh dan hakekat mengarahkan toto batin, dan ilmu ma’rifat sebagai piranti untuk mensucikan ruh. Dan ruh inilah ibarat inti atom dari seorang manusia. Dari situlah terlahir segala bentuk tindak dan perilaku manusia. Karena itu, membangun manusia tanpa menyentuh sisi immateriil dan ruh, ibarat pepesan kosong.
Materialisme membentuk manusia menjadi sangat kerdil. Padahal, manusia adalah makhluk yang paling dibanggakan Gusti Allah di hadapan makhluk lainnya. Tapi materialisme telah menyulap manusia dari makhluk yang paling mulia menjadi hanya seonggok daging yang bernyawa. Jangan heran jika tatanan materialisme ini menjadikan manusia lebih bersifat individualis, saling curiga, mengedepankan kepentingan pribadi, serta abai terhadap lingkungan sekitarnya.
Inilah 5 tonggak penopang MATERIALISME :
1. Hakekat wujud : materi
2. Ukuran hidup : kepentingan
3. Tujuan hidup : kepuasan diri
4. Motivasi hidup : keuntungan maksimal
5. Etos hidup : berkompetisi untuk materi
Ironisnya lagi, tatanan kehidupan di jaman modern seperti sekarang ini sudah mulai menggerogoti ruh peradaban. Yakni AGAMA (dalam pengertian yang kaffah) serta NILAI. Spiritualisme agama tercerabut dari akarnya sehingga agama tidak lebih dari sekedar seperangkat ritual yang kosong dan kering. Sementara nilai-nilai kearifan yang dibangun dan dilestarikan para pendahulu, secara perlahan tapi pasti juga mulai kehilangan ruang geraknya. Ajaran2 nilai seperti saling menghormati, saling peduli, saling menolong, tepo seliro, sopan santun, etika, mendahulukan orang lain, gotong royong, guyub rukun, telah berganti wajah menjadi pragmatisme.
Memang, yang paling mengerikan adalah di saat materialisme mencoba merambah wilayah agama. Tuhan yang Maha Ghaib pun dipaksa diformulasikan menjadi sesuatu yang material. Syahadat yang sejatinya multi dimensi, telah direduksi ke dalam pemaknaan yang rendah. Aksi teror dan kekerasan atas nama agama, adalah salah satu "bentuk" manifestasi meterialisasi keberagamaan. Agama tidak lagi menjadi "spirit" tapi sudah terjebak ke dalam “bentuk”. Dan inilah virus paling kronis yang sedang digemari manusia modern.
Kondisi ini tentu saja tak bisa dibiarkan terus berlangsung. Materialisme harus dilawan. Dengan cara apa? Satu-satunya cara adalah dengan membangkitkan spiritualisme. Dalam konteks keislaman, maka agama harus dikembalikan keutuhannya. Seperangkat ritual yang menjadi “bentuk” dari keislaman, harus segera diinjeksi sehingga bisa menjadi kekuatan spirit yang dahsyat. Dan cara menginjeksinya adalah dengan menghidupkan kembali gerakan tarekat.
Dan inilah 5 tonggak SPIRITUALISME itu :
1. Hakekat wujud : Allah ta’ala
2. Ukuran hidup : penghambaan/ibadah
3. Tujuan hidup : ilaahi anta maqshudi
4. Motivasi hidup : wa ridloka mathlubi
5. Etos hidup : 'amar ma’ruf nahi munkar
Mengapa tarekat? Karena tarekat merupakan gerbang menuju Islam kaffah. Tarekat adalah jendela penghubung kehidupan dunia dan akherat. Tarekat tak mengenal dikotomi (dunia dan akherat) sebagaimana selama ini dipahami umat Islam. Mayoritas umat Islam memahami bahwa bekerja, berorganisasi, berpolitik, bertani, berjualan, dsb, adalah amalan duniawi. Sedangkan sholat, zakat, puasa, dzikir adalah amalan akherat. Tapi di dalam tarekat, semua amalan bergantung pada niat. Bukan pada bentuknya.
Sholat, dzikir, puasa, dsb, bisa jadi merupakan amalan dunia jika niatnya salah. Sebaliknya, bekerja, berorganisasi, bertani, berpolitik, berjualan, dsb, bisa dipandang sebagai amalan akherat jika diniati dengan cara yang benar menurut ilmu tarekat. Jika seseorang masuk ke dalam tarekat sehingga semua aktifitasnya dirubah menjadi amalan akherat, lalu orang tersebut akhirnya terhubung langsung dengan Gusti Allah, maka inilah yang dicari. Orang yang secara istiqomah bisa berada di posisi ini (wushul), dia tidak akan tergiur oleh apapun. Dunia dan seluruh isinya tidak lagi mampu menghentikan pergerakannya. Dan ilnilah yang paling ditakuti oleh pasukan iblis.
Gerakan tarekat di seluruh wilayah nusantara yang dipelopori para wali, terbukti telah berhasil membuat tatanan kehidupan yang aman, damai dan bahagia. Gerakan ini sekaligus bisa menjadi syiar Islam hingga akhirnya Islam bisa diterima dengan baik dan sekarang menjadi agama mayoritas. Gerakan tarekat sempat terkendala pada masa penjajahan karena keanggotaannya yang terbatas hanya pada kalangan bawah. Meski di sisi lain, gerakan ini dianggap momok paling menakutkan bagi para penjajah. Belajar pada pengalaman sebelumnya, maka gerakan tarekat yang dibutuhkan hari ini adalah dengan cara memperluas penyebarannya. Masyarakat golongan atas hingga lapis terbawah harus dirangkul. Jika ini bisa dilakukan, insya Allah kedamaian dan kejayaan Indonesia bisa diwujudkan yang pada akhirnya diharapkan bisa mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan kesejahteraan.
Alfaqir ilaa rahmatillah yang bukan apa2 dan bukan siapa2 ini hanya berusaha menggugah kesadaran untuk kembali membangkitkan spiritualisme dalam bentuk gerakan tarekat. Tentu saja, semangat ini tak hanya berhenti sampai di sini. Tapi harus dibreakdown secara rinci dalam bentuk program2 yang bersifat operasional dan teknis. Misalnya, dengan menghidupkan lagi gerakan Mabadi Nashrillah. Yakni tazawaru ba'dluhum ba'dlo (saling mengunjungi), tawashau bilhaqqi wa tawashau bis shabri (saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran), dan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Tradisi2 lokal yang bernilai spiritual dan sarat nilai, harus digali dan dihidupkan kembali.
Dan itu menjadi tugas kita bersama dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dan tuntutan jaman. Tetapi apapun bentuknya, semua harus disandarkan kepada Gusti Allah. Karena itulah inti dari gerakan tarekat. Tapi setidaknya, sekecil apapun yang kita lakukan hari ini, semoga bisa menjadi ikhtiar dalam MELETAKKAN DASAR PERADADABAN BERBASIS SPIRITUALISME.
Alfaqir ilaa rahmatillah,
@guslege
Mohon izin ikut yaa...
BalasHapusMonggo...
BalasHapus