
Pagi2 Eyang bilang pengen ngajak Wakidi dan Paijo makan spageti. Tapi waktunya entah kapan, nunggu Eyang punya waktu longgar. Wakidi dan Paijo hanya manthuk saja. Padahal, mereka berdua sama2 tidak 'ngeh' dengan makanan bernama spageti.
Saking penasarannya, diam2 Wakidi dan Paijo mencari informasi tentang spageti. Wakidi yang agak melek teknologi, memilih searching di google. Sementara Paijo yang ndeso, menggali informasi dengan cara bertanya kepada orang2 yang dinilai paham tentang spageti.
Keesokan harinya, Wakidi dan Paijo ngopi bareng. Wakidi mengawali obrolan dengan membahas tentang spageti. Dia pengen sesumbar ke Paijo bahwa dia sekarang sudah tahu spageti itu seperti apa.
"Jo, aq wis ngerti sak iki spagheti iku koyok opo," kata Wakidi ngece.
"Opo jal," sahut Paijo.
"Spagheti iku ngono asline bakmi," jawab Wakidi dari hasil browsing semalam.
"Nguawur! Spageti kie bukan bakmi. Spageti itu memang mirip mi karena dia terbuat dari pasta,"tukas Paijo.
"Pasta untumu kuwi! Emange pasta gigi? Nek pancen podo karo pasta gigi, lha ngopo kok ono restoran mewah sing ngedol spageti? Regone luarang pisan. Tuku pasta gigi langsung po'o. Murah," timpal Wakidi.
Perdebatan mulai memanas. Keduanya sama2 ngotot menjelaskan sesuai yang mereka tahu dari hasil penelusuran masing2. Bahkan, mereka nyaris beradu fisik. Padahal, keduanya sama2 belum pernah melihat spageti secara langsung. Apalagi memakannya. Beruntung Eyang mendengar kegaduhan itu dan langsung mendamaikan. "Sudahlah, nanti siang kita naik taksi pergi ke Resto Ramaido. Kita beli spageti terus kalian cicipi sendiri," tutur Eyang dengan bijak.
Siang harinya, ketiga orang itu naik taksi pergi ke Resto Ramaido yang ada di tengah kota. Mereka memesan spageti dengan variasi yg berbeda2. Eyang pesan spageti carbonara, Wakidi pilih spageti bolognese, sementara Paijo lebih tertarik pada spageti aglio e olio.
Setelah pesanan jadi, ketiganya langsung menyantap makanan itu dengan lahapnya. Eyang menyuruh kedua cantriknya untuk saling mencicipi agar mereka tahu rasa masing2 varian. Setelah makan kenyang, ketiganya pulang.
Malam harinya, Eyang memanggil Wakidi dan Paijo. Eyang duduk bersila ditemani segelas kopi setengah pahit dan sebungkus rokok Dji Sam Soe. “Wis ngerti to sak iki spageti iku opo,” tanya Eyang membuka acara cangkruk’an malam itu. Wakidi dan Paijo hanya manthuk2 saja.
“Syukurlah. Hari ini kita sudah mendapat pelajaran yang luar biasa dari Gusti Allah,” kata Eyang.
Haaaahhhhhh…? Wakidi dan Paijo saling memandang. Mereka tidak mengerti maksud perkataan Eyang. Pelajaran apa? Bukannya hari ini mereka baru saja makan spageti? Apa itu maksudnya Eyang, pelajaran tentang Spageti? Apa urusannya Gusti Allah sama spageti? Eyang seolah membiarkan keduanya menumpuk pertanyaan di dalam pikiran masing2.
Busssss……asap Dji Sam Soe yang keluar dari mulut Eyang mengepul ke udara bebas.
“Ya…Gusti Allah itulah spageti. Spageti itulah Gusti Allah,” kata Eyang. Wakidi dan Paijo semakin tidak ngeh. Wakidi hanya melongo seperti genderuwo yang sedang kaliren, sementara Paijo hanya nyekeli bathuk’e kuatir otaknya berserakan di lantai.
Eyang menjelaskan, ketika mendengar kata ‘spageti’, keduanya sama sekali tidak mengenal. Lalu keduanya berusaha mencari informasi. “Itulah SYARI'AT. Syariat adalah sekumpulan informasi yang akan menuntun kita untuk mengenal Allah. Semua ibadah syariat yang kita lakukan, sesungguhnya barulah sekedar informasi untuk mengenal Gusti Allah. Sebagaimana informasi tentang spageti yang kalian peroleh dengan berbagai cara," jelas Eyang.
“Abot kie Jo,” bisik Wakidi sambil memegangi kepalanya.
Pada saat kita bertiga naik taksi, lanjut Eyang, itulah yang dinamakan THORIQOH. Sebuah perjalanan untuk betul-betul mencari Gusti Allah. Dan lelaku inilah yang biasa disebut dengan istilah suluk. “Dan pada saat kita mulai mencicipi spageti, itulah yang dinamakan HAKEKAT,” kata Eyang.
“Lha terus…kalau pas kita ijol-ijolan spageti itu namanya apa Eyang,” tanya Paijo penasaran.
“Itulah thoriqoh (jalan) menuju MA'RIFATULLAH. Kalau kau hanya mencicipi satu jenis varian spageti di Resto itu, kalian baru mencapai hakekat spageti. Belum ma’rifatus spageti. Bahkan ketika semua varian di resto itu sudah kamu cicipi sekalipun, kamu belum layak disebut ma’arifatus spageti. Sebab, masih ada ratusan lain resto2 yang menawarkan spageti dengan varian yang beraneka rupa dengan cita rasa yang belum tentu sama. Semakin banyak kau mencicipi spageti dengan varian yang berbeda dari resto yang berbeda pula, maka kau akan semakin mengenal spageti,” tutur Eyang.“Lha ngono mau isuk kok awak dewe wis tukaran to Jo? Ngatase sik podo2 syariate. Podo2 durung ngerasakno spagetine. Kementhus tenan awak iki,” Wakidi mengingat2 kejadian tadi pagi.
“Mangkane Bro…ojo gampang2 ngomong iki lho Islam, iki lho Gusti Allah. Sing ngati2. Eling2en tukaranmu mau isuk iku lho. Ternyata wujud lan rasane spageti iku kan durung karuan podo karo bayanganmu to? Ayuk ngaji maneh. Mlebuo sing jeru nang nggone Islam iku. Berkacalah pada perilaku orang2 yang sudah mencapai derajat ma’rifat itu. Sungguh, mereka adalah orang2 yang berakhlak mulia di hadapan Gusti Allah. Bukan di hadapan manusia,” pesan Eyang.
“Mungkin itulah kenapa kisah Nabi Khidzir diabadikan di dalam Al-Qur’an (Surat Al-Kahfi),” celetuk Paijo.
Menurut penuturan Imam Ja’far Shodiq, Gusti Allah menyuruh Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidzir setelah Nabi Musa mengucapkan “Aku tidak menemukan makhluk yang lebih berilmu dari aku”. Mendengar ucapan Nabi Musa yang di dalamnya terselip sedikit kesombongan itulah, Allah ingin menunjukkan kepada Nabi Musa bahwa masih ada ilmu yang belum dikuasai oleh Nabi Musa. Dan ilmu itu telah diberikan kepada Nabi Khidzir.
Sebuah pelajaran bagi kita semua untuk terus ngaji…ngaji…dan ngaji. Berhati2lah dengan secuil ilmu yang kita miliki.
Alfaqir ilaa rahmatillah
@guslege
Komentar
Posting Komentar