Langsung ke konten utama

Kebelet Ngislam

kebelet-bab

Kebelet pipis…?

Kebelet be’ol…?

Kebelet kawin…?

Kebelet kaya…?

Anda yang bukan orang Jawa mungkin akan bertanya2, apakah kebelet itu? Orang Arab bilang, maa hiya kebelet? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebelet diartikan sebagai : ingin sekali, tidak tertahankan lagi untuk melaksanakan keinginan. Apakah definisi KBBI itu sudah mewakili pengertian kebelet sesuai yang dimaksud oleh penemu kata kebelet? Entahlah. Tapi setidaknya sudah cukup memberikan gambaran tentang arti kata kebelet. yakni adanya sebuah dorongan dari dalam untuk bersegera melakukan sesuatu.



Kebelet itu adalah rahmat dan pemberian Gusti Allah yang diselipkan khusus ke dalam tubuh manusia sebagai sebuah proses yang alamiah. Bahkan dalam pengertian yang sederhana, kebelet bisa menjadi pembeda manusia dengan malaikat. Kita belum pernah mendengar ada dalil yang menunjukkan bahwa malaikat atau iblis yang kebelet kawin, kebelet kaya, kebelet pipis, kebelet be’ol, atau kebelet apalah.

Sementara manusia dan binatang, sama2 bisa kebelet. Bedanya, binatang tidak dibekali ilmu manajemen kebelet. Sampai hari ini, belum pernah kita dengar binatang yang sedang kebelet kawin bersedia melewati proses lamaran, akad nikah kemudian berakhir dengan resepsi. Binatang yang kebelet kawin, dia akan melampiaskan keinginannya kepada siapa saja yang ditemuinya. Tak peduli istri tetangga atau bahkan masih keluarga.

Mari kita perhatikan lebih detil lagi proses seseorang ketika sedang kebelet. Pertanyaan pertama, dari mana sebenarnya asal muasal kebelet itu? Bagian manusia yang mana yang mendorongnya? Dalam kajian2 tasawuf, ada istilah “syahwat” yang merupakan bagian dari nafsu. Kata syahwat ini disebut sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Dalam pengertian yang

sederhana, syahwat bermakna al-hawa (terjatuh dari atas ke bawah), al-hubb (kecintaan), dan al-mailu (keinginan dan kesenangan). Ringkasnya, syahwat bisa diartikan sebagai dorongan untuk memenuhi kepuasan biologis, kepemilikan, kedudukan, kenyamanan dan harga diri.

Kebelet pipis, kebelet be’ol, ataupun kebelet kawin, jelas merupakan dorongan memenuhi kepuasan biologisnya. Kebelet kaya, tentu merupakan dorongan untuk memenuhi kepuasan atas kepemilikan, kenyamanan dan mungkin juga berkaitan dengan harga diri atau status sosial seseorang. Ciri khas dari dorongan syahwat adalah dipengaruhi lingkungan, datangnya tiba2, menggebu2, rentang waktunya relatif pendek, serta ada rasa puas setelah tercapai keinginannya (dalam seksologi disebut dengan istilah “orgasme”). Bahkan dalam beberapa contoh, syahwat ini seringkali mendorong manusia bertindak di luar akal sehat.

Bagaimana dengan “kebelet ngislam” seperti judul di atas? Apa pengertiannya? Adakah ia juga merupakan dorongan syahwat? Disadari atau tidak, manusia modern sudah terseret jauh masuk ke dalam kondisi yang oleh Karl Marx disebut sebagai materialisme historis. Dalam pengertian yang sederhana, materialisme historis adalah keadaan yang mempengaruhi kesadaran seseorang.

Kebelet adalah sebuah kondisi (dalam bahasa filsafat boleh dikata sebagai kesadaran) yang sangat dipengaruhi keadaan. Kebelet pipis, umumnya disebabkan karena asupan minuman berupa teh panas, atau bisa juga dipengaruhi faktor cuaca. Kebelet kaya, bisa jadi karena tingginya keinginan atas kepemilikan terhadap sesuatu (barang) setelah melihat enaknya jadi orang kaya.

Kebelet ngislam pun demikian. Kebelet ngislam adalah dorongan kuat yang bersumber dari syahwat untuk memenuhi kepuasan berislam atau menjadi muslim. Dawuhe Gusti Allah, zuyyina linnasi hubbus syahawat. Bahwa manusia itu dihiasi oleh kesenangan untuk menuruti syahwat. Padahal di ayat lain, manusia juga terikat dengan Perjanjian Nafs dengan Allah sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-A’raf 72. Perjanjian Nafs ini adalah kesadaran untuk menjadi hamba yang melahirkan kewajiban2 beribadah. Sebagai ilustrasi, kesadaran menjadi hamba adalah ibarat rumah. Sementara syahwat adalah taman2 hiasan yang berada di emperan rumah.

Sebagai taman hiasan yang ada di emperan, tentu dia sangat rentan terhadap perubahan. Ketika hujan kehujanan, ketika panas kepanasan, mudah goyang diterpa angin dan sangat mudah terserang penyakit. Lain halnya dengan yang di dalam rumah. Dia lebih tahan terhadap segala perubahan. Dalam kajian tasawuf, rumah itulah yang disebut hati. Sebagaimana hadits qudsi qolbul mukminin baitullah bahwa hati seorang mukmin itulah rumah yang di dalamnya terdapat relasi yang sesungguhnya antara hamba dengan Allah.

Dikatakan kebelet ngislam, jika di dalamnya terdapat tanda2 syahwat. Datangnya tiba2, menggebu2, dipengaruhi lingkungan, mudah goyah, mudah berbelok arah, mudah terserang penyakit, tidak istiqomah, serta ada kepuasan ketika sudah tercapai dan (dalam kondisi ekstrim) abai terhadap akal sehat.

Kebelet ngislam inilah yang akhir2 ini lagi menjadi tren. Manusia2 modern sekarang mudah terdorong syahwat untuk segera “membuktikan” keislamannya. Islam yang seharusnya ada di dalam bangunan rumah, ditarik keluar menjadi taman2 hiasan yang bisa dilihat siapa saja yang sedang melintas. Menjadi pengantin dari sebuah aksi pengeboman, adalah contoh paling ekstrim bentuk pembuktian keislaman seseorang.

Mengapa “taman hiasan” ini sekarang menjadi tren dan paling digemari? Alasan utamanya adalah karena “tuntutan” jaman (baca tulisan sebelumnya : Membangun Peradaban Berbasis Spiritualisme). Dan, kondisi ini dimanfaatkan golongan tertentu untuk merangkul mereka. Berbagai program keislaman ditawarkan untuk memfasilitasi kebutuhan syahwat demi mempercantik taman2 hiasan. Lalu apa salahnya? Dalam kajian tasawuf, benar salah dan baik buruk adalah hal yang berbeda. Sesuatu yang benar bisa baik, bisa juga buruk. Ibnu Atha’illah Asy Syakandari dalam kitab Al-Hikam mengidentifikasi bahwa keinginan seseorang untuk melakukan ibadah karena ingin mendapatkan kenikmatan dalam beribadah, masih tergolong syahwat yang halus (syahwat khofiyah). Belum sampai pada derajat “lillah”, apalagi “billah”. Tidak salah memang, tapi kurang baik dalam kontek akhlak penghambaan.

Dengan pemahaman inilah, Aksi 212 bisa dilihat secara jernih. Siapa pun yang menyaksikan aksi jutaan kaum muslim tersebut sudah pasti akan tergetar. Tapi di sinilah para ulama yang kapasitas keilmuan dan akhlaknya sudah teruji jaman sangat berhati2. Bahwa ghirah dan kesadaran itu adalah emperan rumah. Sekali lagi, tidak salah. Tapi ghirah dan kesadaran itu harus segera dimasukkan ke dalam hati untuk menghindarkan diri dari pengaruh syahwat. Jika itu dilakukan, maka akan lahirlah pribadi2 muslim yang kaffah.

Yang terjadi di masyarakat, ada 2 sikap yang sama2 ekstrim. Di satu sisi ada yang bersikap antipati sehingga tidak bisa menemukan satupun sisi positif dari Aksi 212. Di seberang lainnya ada semangat yang menggebu2 sehingga mengatakan bahwa “inilah Islam”. Mereka yang beranggapan seperti ini sampai harus membawa2 Gusti Allah dan malaikat-Nya untuk melegitimasi pandangannya. Dan pandangan seperti ini memang dimotori golongan yang lebih suka menghiasi “taman” ketimbang mbagusi omahe.

Mudah2an kita semua mampu membawa ghirah dan kesadaran berislam ini masuk ke dalam rumah sehingga terpelihara dari jebakan syahwat. Perjalanan untuk bisa mencapai derajat “lillah”, atau syukur2 bisa mencapai “billah”, masih teramat jauh. Sebab jika tidak, maka kita belum terbebas dari sebutan kebelet ngislam.



Alfaqir ilaa rahmatillah

@guslege

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Cantik Yang Haram

Out of The Box 411 : Bunga Cantik Yang Haram “ …Pihak berwenang Hong Kong telah menyatakan empat dari orang-orang Cina tersebut sebagai orang-orang yang berbahaya karena mereka merupakan anggota masyarakat kriminal Cina yang dikenal sebagai Masyarakat Triad Pang Hijau yang sebelum tahun 1949 beroperasi di Cina Utara… ” – Diambil dari buku “ The Chinese Mafia ” – Ditulis oleh seorang pengacara Fenton Bresler yang melakukan investigasi ke berbagai negara selama 3 tahun khusus untuk mempersiapkan buku ini.

Jangan Lihat Sampulnya !

Wakidi : nanti kalau sholat jum'at, aku pengen pake baju terbaikku. Pengen pake parfumku yg paling mahal. Songkok terbaik dan juga sarung termahalku yang jarang tak pake . Saridin : Kok tumben... emang ada apa? Wakidi : Ya namanya mau menghadap Allah, masak mau asal-asalan?  

Lha Lak Thekor Aku !

Pagi itu Totok duduk selonjor di emperan halaman rumah saya. Ia duduk tepat di samping sepeda motornya yang sedang membonceng dua keranjang penuh sayuran. “Sayur…sayur,” teriaknya sembari mengelap tetesan keringat yang meluncur menelusuri ruas wajahnya. Ya, Totok adalah tukang sayur yang setiap pagi melintas di gang rumah. Usianya sekitar 30 tahunan. Karena sudah langganan, saya pun tahu dari istri bahwa dia sudah beranak dua. Yang pertama SMP, dan yang kedua masih duduk di bangku SD.