Langsung ke konten utama

Ketlusupen




PROPAGANDA

Anda yang bukan orang Jawa pasti bertanya-tanya tentang arti judul di atas. Maa huwa ketlusupen? Apa sih ketlusupen itu? Dan apa pentingnya memahami ketlusupen dalam kehidupan kita? Bagi yang tidak sabar untuk segera mendapatkan jawaban, silakan berhenti membaca tulisan ini dan tanyakan langsung pada Google. Selesai. Tapi bagi yang ingin memungut informasi dan pengetahuan tidak secara instan, silakan baca tulisan ini sampai titik terakhir. Sebab, pertanyaan awal tentang definisi ketlusupen akan dijawab pada bagian akhir tulisan.



Lupakan sejenak tentang ketlusupen, mari kita ikuti saja apa yang sedang ramai diperbincangkan orang. Trending topic minggu ini adalah keputusan pemerintah membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Keputusan itu dibacakan Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto dalam sebuah konferensi pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Senin (8/5/2017).

Wow…!!! Keputusan itu bak petir yang cetar membahana. Tepi mencermati cara HTI mereaksi keputusan pemerintah, sepertinya jauh lebih menarik. Penulis tak kuasa ngempet untuk ikut nimbrung. Ada 2 hal menggelitik untuk disorot. Pertama, HTI membangun opini untuk menegaskan jati dirinya sebagai organisasi dakwah. Kedua, HTI gencar membuat propaganda bahwa pemerintah sekarang ‘Anti Islam’.



‘JUBAH’ DAKWAH

Pelabelan ‘dakwah’ adalah sebuah diksi yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (definisi KBBI, red). Diksi dalam kajian ilmu jurnalistik, acapkali digunakan untuk melakukan framing (pembingkaian). Dalam teori dasar Agitasi dan Propaganda, diksi paling digandrungi saat menggunakan teknik name calling untuk memancing ‘efek tertentu’.

Meski realitasnya adalah sebuah gerakan politik (sebagaimana terbukti di sejumlah negara), tapi HTI selalu mengkampanyekan dirinya sebagai organisasi dakwah. Para elit HTI yang dimotori Ismail Yusanto paham betul memainkan psikologi publik yang cenderung skeptis dengan idiom politik. Sebaliknya, kata dakwah memiliki kesakralan dan kesucian sehingga publik cenderung bersikap welcome. Walhasil, para aktivis HTI dengan mudah bisa diterima dan bahkan bisa mendulang simpati dari publik.

Bagi yang melek politik, apa yang dilakukan Ismail Yusanto adalah hal yang wajar. Bahkan boleh dibilang cerdas. Dia paham betul kalau ‘politik’ itu ibarat aurat. Kok bisa? Tradisi yang dipertontonkan para politisi negeri ini “mengharamkan” siapa saja berterus terang tentang agenda politiknya. Sebaliknya, agenda politik itu harus dibungkus sedemikian rupa layaknya aurat. Dan ‘agama’ menjadi jubah yang paling laku di panggung politik.

Untuk diketahui saja, Ismail Yusanto adalah kader HTI generasi pertama yang sempat mendapatkan bimbingan langsung dari Abdurrahman Al-Baghdadi (pembawa HT ke Indonesia atas ajakan KH Abdullah bin Nuh). Jubir HTI ini satu generasi dengan Muhammad Al-Khaththath (kader HTI yang disusupkan ke sejumlah titk strategis. Pernah jadi pengurus MUI dan terakhir menjabat sebagai Sekjen FUI) dan Dr Adian Husaini (mantan Ketua Majelis Tabligh Muuhammadiyah). Jadi, Ismail Yusanto bukanlah orang baru dalam dunia gerakan politik di Indonesia.

Benarkah HTI murni hanya sebagai organisasi dakwah? Tentu hanya para elit HTI saja (asal mau jujur) yang bisa menjawab. Tapi ijinkan publik ikut memberikan penilaian berdasarkan sejumlah fakta yang akan penulis beber di tulisan ini. Pertama, catatan mantan intelijen senior As’ad Said Ali dalam bukunya Negara Pancasila menyebutkan bahwa, HT adalah sempalan dari Ikhwanul Muslimin (meski belakangan banyak pemikir HT yang membantah sejarah ini). Dan, Syeikh Taqiyuddin An Nabhani sebagai pendirinya, banyak mengadopsi pola gerakan Partai Baath (Partai Sosialis) di Irak. Yakni ‘Sistem Sel Sentralistik’.

Kedua, HTI sudah mempersiapkan Rancangan UUD (dustur) Islam. Rancangan yang terdiri dari 186 pasal ini disusun oleh pendiri HT sebagaimana ditulis di dalam kitab Nizhamu al-Islam dan penjelasannya dalam kitab Muqaddimah Ad Dustur. Salah satu pasalnya (Pasal 26) adalah tentang hak pilih yang hanya dimiliki oleh kaum muslim saja. Terus yang non muslim cuman jadi penonton aja? Hehe….kacian banget ya?

Ketiga, banyak negara yang melarang HT. Di Yordania, Pakistan, Arab Saudi, Jerman & Suriah, HT dianggap sebagai ancaman atas kedaulatan negara. Sementara di Banglades, Mesir & Turki, HT diduga terlibat aksi kudeta. Dan di Rusia, Uzbekistan, Kirgiztan, Tajikistan, Kazakhstan, China, HT ditengarai melakukan aksi-aksi teror. Bahkan di Malaysia dianggap sebagai kelompok yang menyimpang. Di Denmark, HT juga beberapa kali tersandung masalah hukum. Sedang di Perancis dan Spanyol, HT diawasi ketat karena dianggap ilegal.

Yang keempat, isu utama HTI adalah ‘khilafah’. Padahal dalam kajian Islam, sejauh yang penulis ketahui, bab tentang sistem perpolitikan itu bukanlah porsi terbesar dalam ajaran Islam. Banyak penceramah HTI mengatakan bahwa bab tentang khilafah terdapat di dalam kitab-kitab klasik. Salah satunya kitab Fiqh Islam karangan Sulaiman Rasjid (1896-1976). Padahal, bab tentang khilafah itu ada di bab terakhir (Bab XV). Anehnya, ada perbedaan konsep antara isi kitab itu dengan yang diusung HTI. Ironisnya, banyak kader HTI yang entah sadar atau hanya ikut-ikutan saja, isi kitab itu diplintir sedemikian rupa. Misalnya, dikatakan bahwa ‘mayoritas umat Islam sepakat’ tentang khilafah. Padahal, tidak satupun halaman yang memuat kalimat seperti itu.

Kelima, HTI menggunakan 3 tahapan dalam gerakannya. Pertama, Tahapan Kaderisasi (Marhalah At Tatsqif). Ini tahapan yang paling penting, karena merupakan pondasi dalam merumuskan kerangka gerakan. Kedua, Tahapan Sosialisasi Terbuka (Marhalah Tafa'ul Ma'a Al Ummah). Pada tahapan ini umat akan ditarik untuk turut memikul kewajiban dakwah Islam. Ketiga, Mengambil Alih Kekuasa­an (Marhalah Istilaam Al Hukm). Sebagai puncak perjuangan, maka pada tahapan inilah syariat Islam diberlakukan bagi seluruh umat muslim di dunia.

Dan yang terakhir, ini indikator yang paling mudah dipahami. Cobalah bikin survei kecil-kecilan dengan pertanyaan, apa kira-kira yang terlintas di pikiran saat mendengar kata HTI? Jawabannya pasti : khilafah. Bandingkan dengan jawaban dari pertanyaan, apa yang terlintas di pikiran ketika disebut kata “NU”. Mungkin jawabannya adalah tahlilan, ziarah makam, atau jawaban-jawaban lain yang mengarah pada ritual keagamaan.

Dengan memahami beberapa indikator di atas, masihkah ada yang memperdebatkan apakah HTI merupakan organisasi dakwah atau sebuah gerakan politik terselubung? Atau, masihkah ada yang percaya bahwa HTI bukanlah sebuah organisasi gerakan melainkan hanyalah sebuah organisasi wacana? Jika kebingungan Anda masih berlanjut, sebaiknya segera hubungi dokter.



ANTI ISLAM

Hal yang menarik berikutnya adalah, para politisi HTI mencoba membangun opini bahwa pemerintahan saat ini ANTI ISLAM. Hmmm…apa iya? Apakah pemerintah melarang kaum muslim melaksanakan sholat? Apakah kaum muslim ketika ketahuan membayar zakat langsung dibunuh? Apakah pemerintah mengeluarkan UU yang melarang puasa? Apakah pemerintah juga menghalang-halangi kaum muslim pergi haji? Apakah seorang muslim akan dirajam ketika terbukti melakukan sholat tahajud? Jika benar Anti Islam, mengapa negeri ini banyak melahirkan ulama-ulama yang memiliki ilmu dan akhlak yang diakui bahkan sampai ke penjuru dunia?

Lagi-lagi, bahwa cap “Anti Islam” hanyalah sebuah propaganda yang sengaja didengungkan HTI. Propaganda seperti ini memang cukup ampuh. Terlebih lagi ketika diterapkan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Kebetulan, paska Pilkada DKI Jakarta, sejumlah organisasi Islam sedang hangat-hangatnya bertemu dalam satu kepentingan.

Dalam teknik propaganda, penyebutan “Anti Islam” dinamakan sebagai teknik Name Calling. Yakni penyebutan simbol-simbol emosional dengan menggunakan cara pandang stereotipe sehingga sasaran tidak perlu melakukan pembuktian atas kebenarannya. Teknik seperti ini juga pernah digunakan Anis Matta ketika melakukan respon cepat atas terbongkarnya skandal korupsi sapi yang melibatkan para petinggi PKS. Anis Matta memilih diksi “Zionis” dengan mengatakan bahwa penangkapan itu adalah skenario Zionis untuk menghancurkan Islam.

Dalam perspektif psikologi sosial, teknik ini sangat efektif untuk menjaga, melindungi sekaligus me-recovery moralitas kader. Diakui atau tidak, moralitas kader pasti mengalami penurunan atau setidaknya kegalauan sejak pemerintah mengumumkan pembubaran HTI. Dan kondisi seperti itu tidak boleh dibiarkan berlangsung dalam waktu lama jika tidak ingin barisan tercerai-berai. Anis Matta dan Ismail Yusanto langsung merespon hanya beberapa jam setelah kejadian.

Jadi jelas, bahwa HTI melakukan itu selain untuk menyelematkan moralitas kader, adalah untuk mengundang simpati sesama kelompok Islam. Padahal kalau diflashback, HTI sangat tertutup terhadap kelompok Islam lainnya. Terutama yang bersedia menerima sistem yang mereka anggap kafir. Mereka pernah renggang dengan PKS yang sudah menjadi partai politik, dan mereka pun tidak sepakat dengan gerakan ala Salafi. Baik Salafi Puritan, Salafi Sururi ataupun Salafi Jihadi. Karakter ekslusif (metode takfiri) seperti ini boleh dibilang menjadi ciri khas semua gerakan Islam yang berasal dari luar. Meski belakangan kader HTI ramai-ramai membantah masalah ini, tapi rekam jejak mereka tak bisa dihapuskan. Tidak sedikit penceramah HTI mensyirikkan dan mengkafirkan muslim yang menolak khilafah (https://www.youtube.com/watch?v=N29jp20rt8A).



DISUDET

Kembali pada judul di atas. Maa huwa ketlusupen? Ketlusupen adalah masuknya benda asing ke permukaan kulit. Benda asing itu biasanya bentuknya kecil dan tipis. Meski kecil dan tipis, benda asing itu bisa menyebabkan permukaan di sekitarnya terasa sakit. Bahkan jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan infeksi yang berujung pada amputasi atau bahkan kematian.

Dan itulah yang terjadi hari ini di Indonesia. Bangsa ini sedang mengalami ketlusupen. Benda asing yang dimaksud bisa berbentuk organisasi atau paham yang sama sekali tidak mencerminkan nilai, tradisi dan budaya nusantara. Organisasi atau paham asing itu masuk, membuat kegaduhan-kegaduhan yang akhirnya menyebabkan kehidupan sosial menjadi terganggu.

Ketegangan sosial yang terjadi akhir-akhir ini sebenarnya adalah buntut dari pembiaran masuknya paham asing akibat lemahnya sistem deteksi dini. Entah itu yang berbentuk liberalisme ataupun radikalisme. Keduanya sama-sama merupakan ancaman atas nilai, tradisi dan budaya luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Karena sejatinya, bangsa ini telah mampu menemukan jati dirinya. Dan itu sejalan dengan nilai Islam.

Liberalisme dan radikalisme telah memporakporandakan jati diri bangsa. Ironisnya, ini terjadi justru di saat jati diri bangsa ini diakui kehebatannya oleh dunia. Pada titik inilah, seharusnya nalar sehat tetap terjaga untuk mencurigai kepentingan-kepentingan di balik masuknya liberalisme dan radikalisme.

Keberagaman ras, suku, adat istiadat, agama, budaya dan bahasa adalah takdir Allah atas bangsa ini. Bukan rekayasa manusia. Pemahaman ini perlu dicamkan. Dan atas petunjuk Allah melalui para ulama, bangsa ini akhirnya bisa menemukan serta merumuskan jati dirinya. Yakni PANCASILA. Karena semua adalah iradat-Nya, walhasil, bangsa ini bisa hidup damai dalam kemajemukan.

Bangsa ini sangat merindukan kehidupan damai, aman, tenteram dan sejahtera. Meski belum bisa mewujudkan kesejahteraan, tapi setidaknya selama puluhan tahun bangsa ini bisa berdamai dengan keberagaman. Ber-Bhineka Tunggal Ika. Dan satu-satunya jalan untuk mengembalikan itu adalah dengan “disudet”. Apa itu disudet, siapa yang disudet dan apanya yang disudet?

Disudet adalah mengeluarkan dengan cara paksa benda asing yang menyusup ke tubuh. Siapa yang harus disudet? Tentu saja mereka yang tidak tahu apa-apa tapi sudah terlanjur termabukkan impian-impian yang dicekokkan para elit mereka. Entah itu berbaju radikalisme ataupun liberalisme. Lalu, apanya yang disudet? Pikirannya, nalarnya, akal sehatnya, serta pemahaman-pemahaman yang sudah menjauh dari apa yang sudah diwariskan para ulama terdahulu. Itulah PR besar bangsa ini, khususnya kaum muslim. Sebab ketlusupen jika dibiarkan bisa menyebabkan infeksi dan bahkan berujung pada kematian. Dalam kontek tulisan ini, bangsa dan negara yang dibangun dengan tetesan darah para pejuang ini bisa hancur jika tidak segera bersikap. Dan itulah yang diinginkan oleh 'mereka'.

Semoga melalui coretan kecil ini, Gusti Allah kerso membukakan mata dan hati kita. Ihdinash shiroothol mustaqiim…..



Alfaqir Ilaa Rahmatillah

Lege A.N

(Mantan Jurnalis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Cantik Yang Haram

Out of The Box 411 : Bunga Cantik Yang Haram “ …Pihak berwenang Hong Kong telah menyatakan empat dari orang-orang Cina tersebut sebagai orang-orang yang berbahaya karena mereka merupakan anggota masyarakat kriminal Cina yang dikenal sebagai Masyarakat Triad Pang Hijau yang sebelum tahun 1949 beroperasi di Cina Utara… ” – Diambil dari buku “ The Chinese Mafia ” – Ditulis oleh seorang pengacara Fenton Bresler yang melakukan investigasi ke berbagai negara selama 3 tahun khusus untuk mempersiapkan buku ini.

Jangan Lihat Sampulnya !

Wakidi : nanti kalau sholat jum'at, aku pengen pake baju terbaikku. Pengen pake parfumku yg paling mahal. Songkok terbaik dan juga sarung termahalku yang jarang tak pake . Saridin : Kok tumben... emang ada apa? Wakidi : Ya namanya mau menghadap Allah, masak mau asal-asalan?  

Lha Lak Thekor Aku !

Pagi itu Totok duduk selonjor di emperan halaman rumah saya. Ia duduk tepat di samping sepeda motornya yang sedang membonceng dua keranjang penuh sayuran. “Sayur…sayur,” teriaknya sembari mengelap tetesan keringat yang meluncur menelusuri ruas wajahnya. Ya, Totok adalah tukang sayur yang setiap pagi melintas di gang rumah. Usianya sekitar 30 tahunan. Karena sudah langganan, saya pun tahu dari istri bahwa dia sudah beranak dua. Yang pertama SMP, dan yang kedua masih duduk di bangku SD.