
Para leluhur merangkai "ojo telu" itu dalam sebuah konsep trinitas. Tiga larangan yang menyatu dalam kehidupan Jawa selama ratusan tahun. Orang tua dulu mengurai "ojo gumunan" dalam arti kata agar kita jangan jadi orang yang gampang heran melihat sesuatu. "Ojo kagetan" maknanya hampir mirip. Bedanya, "ojo gumunan" lebih menekankan pada aspek pencapaian seseorang. Terutama dalam hal keduniawian. Sedang "ojo kagetan" maknanya lebih dekat pada sebuah peristiwa/kejadian. Terakhir, "ojo dumeh" itu adalah pepeling (peringatan, Red) agar jangan jadi orang yang mentang-mentang. Misalnya, mentang-mentang jelek, mentang-mentang item, mentang-mentang blo'on, apalagi mentang-mentang jomblo terus ngajak cewek sekampus jalan-jalan ke padang pasir. Qiqiqi...
Ternyata benar. Belakangan, kehidupan di republik ini memang sangat dinamis. Banyak hal yang muncul tiba-tiba alias makbedundung. Dalam industri musik misalnya, muncul diksi "mendadak dangdut". Padahal sebelumnya, dangdut dipandang sebagai musik pinggiran. Musiknya orang yang susah cari makan. Tapi lewat goyang ngebornya Inul, dangdut tiba-tiba bisa meracuni kelas menengah ke atas. Meski sempat membuat Bang Haji Rhoma uring-uringan dan menuding Inul telah melakukan penistaan terhadap musik dangdut. Masih ingat kan statement keras Bang Haji, "Jangan biarkan musik dangdut jatuh ke comberan"?
Fenomena makbedundung juga merambah ke industri agama. Golongan yang dulunya menentang sikap taqlid (mengikuti ulama), lha kok menyalip di tikungan dari arah kiri kemudian langsuung geser ke kanan dan tiba-tiba putar balik. Beruntung yang disalip pakai rem cakram sehingga tidak terjadi tabrakan. Hehe...
Setahun lalu, pernah ada gerakan zig-zag yang menegaskan diri sebagai pembela ulama. Masih ingat kan? Gerakan ini cukup masif. Bahkan bisa menggiring '7 juta' umat muslim (iyyyooo tah...? Husss!) untuk mengamini gerakannya. Gerakan ini makbedundung turun dari langit dan seolah-olah belum pernah meninggalkan jejak di bumi. Hahaha....
Saya tidak sedang membahas apa yang jadi tuntutan dari gerakan ini. Biarlah itu tetap menjadi diskusi terbuka yang berujung pro dan kontra. Tapi yang membuat para penghuni warung kopi terpingkal-pingkal adalah identitas (claim) yang digunakan. Mengapa? Pertama, mereka mengklaim sebagai pengawal ulama. Ups! Sejak kapan? Bukankah rekam jejak di buku diary bangsa ini tercatat bahwa mereka adalah kelompok yang selama ini menolak sikap taqlid? Dengan bingkai pemikiran "Kembali ke Al Qur'an dan Hadits", otomatis menegasikan peran ulama. Setiap individu didorong untuk langsung mengkaji kedua sumber hukum Islam itu. Hasil ijtihad ulama tidak dipahami sebagai anak tangga dalam memahami Al Qur'an dan Hadits.
Nah...di sinilah sesi stand up comedy dimulai. Kita sedang disuguhi tontonan lawakan yang sangat segar, renyah dan kemriyuk. Jauh lebih lucu dari Raditya Dika. Cak Lontong mah lewat. Saking lucunya, sampai banyak yang pipis di pampers alias ngompol. Dulu mereka menentang keras sikap taqlid. Tapi hari ini mereka bukan hanya taqlid. Malah sudah mengarah pada chauvinisme (kesetiaan ekstrim) kepada ustadz-ustadz yang mereka pilih. Right or wrong is my ustadz! Hop...hop...hop! Bijim...bijim. Sumpah bijim! Celanaku kembloh.....ngguuuyu ngakak.
Banyolan yang tak kalah renyahnya adalah gerak zig-zag dari gerakan ini. Awalnya, mereka mengusung gerakan pengawal fatwa ulama. Lucunya di mana Bro? Apa sampean tidak lihat, bahwa fatwa yang dikawal harus disortir dulu? Fatwa yang tidak terkait isu yang 'itu', disuruh pulang naik becak. Tidak dikawal. Dicuekin. Eeeiiit...jangan emosi Bro! Ini fakta kok. Kalau ga percaya, coba buka lagi deh reportase berbagai media dik jaman semono.
Belum kering CD yang terkena ompol, perut sudah dikocok banyolan baru lagi. Awalnya ngaku sebagai "pengawal fatwa ulama", lha kok makbedundung berubah haluan. Tiba-tiba saja pisah ranjang ketika KH Ma'ruf Amin (Ketua MUI) tidak mendukung adanya upaya untuk memperpanjang gerakan paska 212. Dan pisah ranjang itu ditandai dengan merubah nama dari "pengawal fatwa ulama" menjadi "pengawal ulama". Tentu, ulama yang dimaksud di situ merujuk pada ulama yang masih segaris. Sementara ulama yang dikomando Kyai Ma'ruf berujung tragis. Mereka dipigora dan hanya jadi hiasan ruang tamu.
Kelamaan jadi pajangan di ruang tamu, akhirnya pigora dipindah ke gudang. Namanya saja di gudang, suaranya sudah tak lagi didengar sama penghuni rumah. Ini bisa dilihat dari gaduh "puisi Sukma" dan "elit goblok bermental maling" beberapa waktu lalu. Meski Sukmawati sudah 'berdamai' dengan MUI, nyatanya tidak otomatis menghentikan kegaduhan. Terlebih lagi ketika jari telunjuk Kyai Ma'ruf mengarah pada pencetus "elit goblok bermental maling", lha kok jebulnya banyak yang nylinthut. Owalah...mangkanya ojo gumunan lan ojo kagetan! Paham???
Di pojok warung, pelanggan yang sejak lahir sudah menyatakan diri sebagai benteng ulama, hanya ketawa gedek-gedek (geleng-geleng kepala). Sambil ngudud dan nyeruput kopi, mereka berbisik lirih : "Kulo pejah gesang nderek ngulama', Mas".
@guslege
Penikmat Warung Kopi
Komentar
Posting Komentar