Langsung ke konten utama

Postingan

Faksi Keadian Vs Faksi Sejahtera

Blar…blar…blar !!! Pesta kembang api menyambut tahun baru 2013 telah usai. Gemuruh pesta kembang api itu seolah menjadi gong pembuka babak baru dagelan politik dari para elit di republik ini. Tak pelak, publik kembali mendapat tontonan memalukan di penghujung Januari. Adalah Ahmad Fathonah (AF) yang tertangkap tangan melalui operasi penggerebekan yang digelar KPK. Penangkapan AF berujung pada penetapan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) sebagai tersangka dugaan suap impor daging sapi. Tentu saja, berita ini dengan cepat menggegerkan jagat nasional. Beragam komentar menghiasi dunia maya melalui media-media sosial seperti facebook, twitter, gogle+, blog dan media sosial lainnya. Yang pasti, publik tersontak kaget dengan peristiwa ini sehingga menjadi perbincangan hangat. Reaksi publik – mungkin – bisa dianggap berlebihan tidak seperti peristiwa lainnya. Mengapa demikian?

Petingginya Keblinger Sapi (PKS)

 (suara sapi) : emmmmuuuoooooooooooooooo.............. Sapi-sapi Australia itu mengerang kesakitan. Entah karena dapat laporan dari intelejen atau memang benar-benar paham bahasa sapi, sebuah LSM pembela hak asasi binatang dari Australia (RSPCA) datang untuk merekam.

Ke(tidak)adilan "Wani Piro"

Seorang bu mengendarai sepeda motor. Sang anak yang baru berusia 5 tahun duduk di depan. Ketika hendak mendahului sebuah truk gandeng dari sisi kiri, tiba-tiba perempuan itu kehilangan keseimbangan. Kondisi semakin tidak terkendali karena perempuan itu menyetir hanya dengan satu tangan. Sebab, tangan satunya harus memegangi anaknya yang baru berusia 5 tahun. Dan akhirnya....bruakkk !!! Sepeda motor yang dikendarai perempuan itu menyenggol badan truk gandeng. Perempuan itu langsung terpelanting dan jatuh tepat di depan roda truk yang sedang melaju. Perempuan itu meninggal di TKP. Beruntung anak yang masih dalam dekapan ibunya tidak ikut terlindas dan hanya mengalami luka ringan.

Jejak Dosa Bendahara Partai Demokrat (1)

Muda pesta pora, tua tidak sia-sia, mati masuk surga. Barangkali ungkapan itu cocok untuk menggambarkan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) Muhammad Nazaruddin. Bagaimana tidak? Usianya baru 33 tahun, tetapi sudah memegang uang miliaran rupiah. Sebagai petinggi partai, tentu perannya sangat besar dalam menjayakan PD. Ke depan pengaruh politiknya sangat kuat. Kelak, tidak mungkin hidupnya sia-sia. Karena jasa-jasanya kepada partai, juga kepada bangsa dan negara, kalau mati pasti menuju jalan surga.

Jejak Dosa Bendahara Partai Demokrat (2)

Dua lembar surat disodorkan kepada Nazaruddin. Satu surat berisi pernyataan pengunduran diri Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) itu. Satu lembar lagi berisi pemecatan terhadap Nazar. Surat itu dibuat oleh Dewan Kehormatan PD dan tinggal ditandatangani. Sekretaris DK PD Amir Syamsuddin menyodorkan surat itu kepada Nazar di ruangan Anas Urbaningrum, di kantor DPP PD, Jalan Kramat, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Mei lalu. Anas saat itu juga ada di ruangannya. "Namun Nazar menolak opsi itu," jelas sumber detikcom yang mengaku melihat langsung surat tersebut. Tapi kabar soal opsi ini dibantah Nazar.

Jejak Dosa Bendahara Partai Demokrat (3)

Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) M Nazaruddin seolah memiliki uang yang begitu melimpah ruah. Contoh kecilnya saja, ia disebut Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD memberi uang 120 ribu dollar Singapura kepada Sekjen MK Janedjri M Gaffar. Sementara untuk membungkam kasusnya ia dikabarkan mengeluarkan uang hingga US$ 5 juta. Dari mana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Nazar memang memiliki sejumlah perusahaan yang menghasilkan banyak uang. Daniel Sinambela dan mantan partner Nazar membeberkan gaya bisnis Bendum PD itu sehingga bisa menetaskan uang hingga triliunan.

Jejak Dosa Bendahara Partai Demokrat (4)

Enam tahun lalu, kondisi Nazaruddin sungguh berbeda dibandingkan sekarang. Ia mulai bisnisnya di Jakarta tahun 2005. Saat itu, pria yang kini jadi Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) itu awalnya menyewa tempat tinggal dan kantor di Apartemen Rasuna Lot 9. Kantor perusahaanya pun berada di lantai dasar apartemen. Tapi sekarang, Nazaruddin mampu membeli rumah di kawasan elit Pejaten,Jakarta Selatan. Rumah yang terletak di Jalan Pejaten Raya nomor 7 itu dibeli dari keluarga Taher dengan harga Rp 3 miliar. Rumah inilah yang menjadi tempat Sekjen MK Janedjri M Gaffar mengembalikan uang 120 dolar Singapura pemberian Nazar.